Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada hari-hari awal bulan Dzulhijjah. Salah satu amalan sunnah yang dapat dikerjakan adalah puasa Tarwiyah, yaitu puasa yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ibadah ini menjadi bagian dari amalan utama sebelum datangnya hari Arafah dan Idul Adha.
Puasa Tarwiyah diawali dengan niat. Niat puasa ini dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar. Adapun bacaan niat puasa Tarwiyah adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati yaumit tarwiyah lillâhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah SWT.”
Apabila seseorang belum sempat berniat pada malam hari hingga masuk waktu Subuh, ia tetap boleh melaksanakan puasa Tarwiyah. Niat masih dapat dilakukan sebelum waktu Zuhur, dengan syarat sejak terbit fajar belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau perbuatan lain yang membatalkan puasa.
Dalam pandangan ulama Mazhab Syafi’i, puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah memiliki anjuran tersendiri. Selain puasa Tarwiyah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak puasa pada delapan hari pertama bulan Dzulhijjah, kemudian dilanjutkan dengan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.
Adapun niat puasa Arafah adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya:
“Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah ta’âlâ.”
Anjuran puasa pada hari-hari awal Dzulhijjah juga dijelaskan oleh Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyral Karim. Dalam keterangan tersebut, puasa selama delapan hari sebelum hari Arafah dianjurkan. Khusus tanggal 8 Dzulhijjah, puasa Tarwiyah juga dipahami sebagai bentuk kehati-hatian menjelang hari Arafah dan termasuk bagian dari amalan utama pada awal bulan Dzulhijjah.
Keutamaan ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sangat besar. Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Disebutkan pula bahwa satu hari berpuasa pada hari-hari tersebut setara dengan puasa selama satu tahun, sedangkan shalat malam pada malam-malamnya diibaratkan seperti shalat pada malam Lailatul Qadar.
Nama Tarwiyah sendiri memiliki beberapa penjelasan. NU Online menyebutkan bahwa ada tiga pendapat mengenai penamaan hari Tarwiyah. Pertama, berkaitan dengan perenungan Nabi Adam ketika membangun Ka’bah. Kedua, berhubungan dengan perenungan Nabi Ibrahim setelah bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya. Ketiga, dikaitkan dengan perenungan jamaah haji dalam mempersiapkan doa-doa yang akan dipanjatkan pada hari Arafah.
Dengan memahami makna dan keutamaannya, puasa Tarwiyah tidak hanya menjadi ibadah sunnah yang dikerjakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Lebih dari itu, puasa ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak amal saleh, serta menyambut hari-hari utama dengan hati yang lebih siap.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan artikel NU Online berjudul “Panduan Lengkap Puasa Tarwiyah: Niat dan Keutamaannya” yang ditulis oleh Muhammad Syakir NF, terbit pada Kamis, 7 Juli 2022, serta merujuk pada keterangan yang dikutip NU Online dari kitab Busyral Karim karya Syekh Said Muhammad Ba’asyin.
Tinggalkan Komentar