Shalawat Nariyah menjadi salah satu bacaan yang banyak diamalkan umat Islam. Bacaan ini sering dibaca dalam majelis keagamaan, kegiatan doa bersama, maupun sebagai amalan pribadi. Selain memuji dan memohonkan salam kepada Nabi Muhammad saw., shalawat juga menjadi bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulullah.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesulitan dalam pekerjaan, masalah keluarga, hingga kegelisahan hati. Dalam keadaan seperti itu, umat Islam dianjurkan untuk tetap berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Salah satu bentuk ibadah yang dapat dilakukan adalah memperbanyak shalawat.
Berikut bacaan Shalawat Nariyah yang dikutip dari sumber NU Online:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَــمَّدِ ࣙالَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman ‘alâ sayyidinâ Muḫammadinil-ladzi tanḫallu bihil-‘uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdlâ bihil-ḫawâiju wa tunâlu bihir-raghâ’ibu wa ḫusnul-khawâtimi wa yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîmi wa ‘alâ âlihi wa shaḫbihi fî kulli lamḫatin wa nafasin bi‘adadi kulli ma‘lûmilak.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Dengan sebab beliau, berbagai kesulitan dapat terurai, kesusahan dapat dilenyapkan, kebutuhan dapat terpenuhi, keinginan dapat diraih, serta memperoleh akhir kehidupan yang baik. Semoga hujan diturunkan berkat kemuliaan beliau. Limpahkan pula shalawat dan salam kepada keluarga serta para sahabat beliau pada setiap kedipan mata dan setiap hembusan napas sebanyak bilangan segala sesuatu yang Engkau ketahui.”
Membaca shalawat merupakan salah satu amalan yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad saw.
Salah satu hadis yang sering menjadi dasar anjuran memperbanyak shalawat menyebutkan bahwa orang yang bershalawat kepada Rasulullah akan mendapatkan balasan dari Allah berupa sepuluh rahmat.
Karena itu, shalawat tidak hanya dibaca ketika seseorang menghadapi persoalan. Amalan ini juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan ibadah sehari-hari.
Dalam Khazinatul Asrar, Sayyid Muhammad Haqqi an-Nazili menyebut Shalawat Nariyah dengan nama Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah. Kitab tersebut juga memuat keterangan mengenai praktik pembacaan shalawat dalam jumlah tertentu untuk tujuan doa dan permohonan kepada Allah.
Salah satu jumlah yang dikenal dalam tradisi pembacaan Shalawat Nariyah adalah 4.444 kali. Praktik tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam sebuah majelis dengan harapan agar hajat yang dipanjatkan mendapatkan pertolongan Allah.
Namun, jumlah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi amaliah yang dijelaskan dalam literatur tertentu. Terkabulnya doa tetap merupakan kehendak Allah Swt. Seorang muslim tetap perlu berikhtiar, berdoa, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ada beberapa nilai keutamaan yang dapat menjadi alasan umat Islam memperbanyak shalawat.
Hadis tentang keutamaan shalawat menjelaskan bahwa satu kali shalawat yang dibaca untuk Nabi Muhammad saw. mendapat balasan sepuluh kali dari Allah Swt.
Hal ini menjadi salah satu dorongan bagi umat Islam untuk menjadikan shalawat sebagai amalan rutin.
Membaca shalawat juga menunjukkan rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Umat Islam mengenang perjuangan beliau dalam menyampaikan ajaran Islam.
Shalawat dapat menjadi bagian dari dzikir yang dilakukan ketika seseorang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Membaca dengan tenang dan memahami maknanya dapat membantu seseorang lebih fokus dalam berdoa.
Dalam tradisi keislaman, shalawat sering dibaca sebelum dan sesudah berdoa. Tujuannya untuk memuliakan Nabi Muhammad saw. sekaligus memohon kepada Allah agar doa yang disampaikan mendapatkan keberkahan.
Kesibukan sehari-hari terkadang membuat seseorang lupa memperbanyak dzikir. Membaca shalawat secara rutin dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kebiasaan mengingat Rasulullah saw.
Tidak ada keharusan bagi setiap orang untuk membaca Shalawat Nariyah dalam jumlah tertentu. Seseorang dapat membacanya sesuai kemampuan dan kebiasaan ibadahnya.
Dalam tradisi tertentu, terdapat amalan membaca Shalawat Nariyah sebanyak 11 kali setelah shalat fardhu. Ada pula majelis yang mengamalkannya dalam jumlah yang lebih banyak.
Yang terpenting adalah menjaga niat untuk beribadah kepada Allah, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw., serta tidak menggantungkan hasil tertentu hanya kepada jumlah bacaan.
Membaca shalawat tidak harus menunggu ketika sedang mengalami masalah. Amalan ini dapat dilakukan kapan saja, misalnya setelah shalat, ketika memiliki waktu luang, saat mengikuti majelis ilmu, atau sebagai bagian dari dzikir harian.
Selain memperbanyak shalawat, umat Islam tetap dianjurkan menjalankan ibadah wajib, berdoa, berusaha, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Dengan demikian, Shalawat Nariyah dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual. Segala permohonan tetap ditujukan kepada Allah Swt., sedangkan Nabi Muhammad saw. menjadi junjungan yang kita muliakan melalui bacaan shalawat.
Artikel ini ditulis ulang berdasarkan artikel “Inilah Lafal dan Keutamaan Membaca Shalawat Nariyah” yang diterbitkan oleh NU Online Lampung pada 11 Maret 2023, serta merujuk pada sumber NU Online yang dicantumkan dalam artikel tersebut.
Sumber asli: NU Online Lampung
Kata kunci: Shalawat Nariyah, bacaan Shalawat Nariyah, Shalawat Nariyah Arab Latin, arti Shalawat Nariyah, keutamaan membaca shalawat, amalan shalawat, doa dan dzikir.
Tinggalkan Komentar