Di sebuah ruang sunyi yang dihiasi aroma keikhlasan dan tinta ilmu, seorang ulama besar dari Hadramaut, Yaman—Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad—menyusun sebuah risalah sederhana namun penuh cahaya: Risalatul Mu’awanah wal Muzhaharah wal Mu’azharah. Buku ini bukan sekadar nasihat, melainkan pancaran cinta dan tanggung jawab terhadap umat yang haus akan bimbingan menuju jalan Allah.
Beliau mengawali risalahnya dengan pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Rasulullah Saw., menandakan bahwa setiap untaian kata yang beliau tuliskan bukan untuk kemegahan, melainkan demi menyampaikan amanah Ilahi.
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan…” (QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini menjadi dasar kuat Habib Abdullah dalam menulis risalahnya. Ia percaya bahwa dakwah adalah panggilan suci, bukan monopoli ulama besar, tapi tugas setiap Muslim. Satu nasihat yang benar, jika disampaikan dengan niat yang tulus, bisa menjadi pahala yang tak terputus hingga hari kiamat.
Namun dakwah tanpa keteladanan adalah bencana. Dengan penuh kerendahan hati, Habib Abdullah mengakui bahwa dirinya pun belum tentu mampu mengamalkan semua yang ia tulis. Ia mengutip hadits tentang orang berilmu yang diperintahkan masuk neraka karena tidak mengamalkan ilmunya.
“Musuh terbesarmu adalah nafsumu yang berada di antara dua sisi tubuhmu.”
Begitu sabda Rasulullah. Dan karena itu, setiap bab dalam risalah ini dimulai dengan “Wa ‘alaika”—Hendaklah engkau…, seolah beliau berbicara kepada dirinya sendiri sebelum menyampaikan kepada orang lain.
Habib menggambarkan bahwa para pewaris Nabi bukan hanya orang berilmu, tapi mereka yang mempraktikkan iman, itqan, dan ihsan. Mereka adalah orang-orang yang mengingatkan sesama akan kematian, akhirat, dan kasih sayang Allah. Bukan karena ingin dikenal, tapi karena cinta kepada sesama.
“Makhluk Allah yang paling dicintai adalah mereka yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya.”
Banyak yang berkata, “Buku sudah banyak, untuk apa menulis lagi?”
Habib menjawab bijak: manusia secara fitrah menyukai hal baru. Dan ilmu yang tertulis akan terus mengalirkan pahala, bahkan setelah penulisnya tiada. Ia menyitir hadits:
“Barang siapa menghidupkan kebenaran lewat lisannya, lalu terus diamalkan, maka pahala akan terus mengalir hingga hari kiamat.”
Habib tidak malu mengungkapkan pergolakan batinnya. Ia menyadari bahwa dorongan duniawi kadang menyelinap di antara amal-amal. Tapi ia tetap melangkah, sambil berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syirik yang aku sadari, dan mohon ampun atas syirik yang tidak kusadari.”
Itulah ketulusan. Itulah pengakuan yang justru meninggikan derajat seorang alim di sisi Allah.
Risalatul Mu’awanah bukan sekadar buku petunjuk. Ia adalah risalah cinta dari seorang wali Allah kepada umatnya. Isinya sarat dengan pesan keikhlasan, ajakan untuk menempuh jalan akhirat, dan dorongan untuk terus mengingat Allah dalam setiap amal.
Dalam dunia yang semakin bising oleh ego dan ambisi, risalah ini hadir bak cahaya yang menuntun jiwa kembali pada asalnya.
Semoga siapa pun yang membaca risalah ini—dan artikel ini—diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkan ilmunya, memperbaiki niatnya, dan menjadi cahaya bagi lingkungannya. Aamiin.

Cek Terjemah kitab Risalatul muawanah – Kitab Risalatul muawwanah – Hard cover dengan harga Rp60.000. Dapatkan di Shopee sekarang! https://s.shopee.co.id/gCrF6uicS?share_channel_code=1
Tinggalkan Komentar