Jakarta – Menjelang Idul Adha 2025, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hisab hilal untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah 1446 H. Perhitungan dilakukan untuk tanggal Selasa, 27 Mei 2025 yang bertepatan dengan 29 Dzulqa’dah 1446 H.
Dilansir dari NU Online, hisab dilakukan dari titik pantau di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta, dengan koordinat 6°11’25” LS dan 106°50’50” BT. Hasilnya, hilal pada saat itu berada pada ketinggian 1°28’20”, dengan elongasi 6°34’38” dan lama hilal di atas ufuk selama 8 menit 50 detik. Adapun ijtimak (konjungsi) terjadi pukul 10:04:09 WIB di hari yang sama.
Di antara seluruh wilayah Indonesia, Sabang di Provinsi Aceh mencatat ketinggian hilal tertinggi, yakni 3°10’ dengan elongasi 7°02’, dan hilal terlihat selama 15 menit 55 detik setelah matahari terbenam. Sebaliknya, Merauke di Papua Selatan menjadi lokasi dengan ketinggian hilal terendah, yaitu hanya 0°18’ dengan lama hilal tampak hanya 2 menit 19 detik.
Kriteria imkanur rukyah (kemungkinan terlihatnya hilal) menurut NU, yaitu minimal tinggi 3° dan elongasi 6,4°, hanya terpenuhi di wilayah barat Indonesia, khususnya Aceh. Wilayah lainnya belum memenuhi kriteria tersebut.
Sementara itu, BMKG juga mengeluarkan informasi prakiraan hilal yang mendukung data LF PBNU. BMKG mencatat bahwa konjungsi terjadi pada Selasa, 27 Mei 2025 pukul 10.02 WIB, dan waktu matahari terbenam di Indonesia berkisar antara pukul 17.25 WIT (Merauke) hingga 18.48 WIB (Sabang).
Menurut BMKG:
Dengan data ini, kemungkinan besar awal Dzulhijjah 1446 H akan ditetapkan berdasarkan pengamatan rukyat di wilayah yang memenuhi syarat imkanur rukyah.
Kementerian Agama RI akan menggelar sidang isbat pada petang hari Selasa, 27 Mei 2025 untuk menentukan secara resmi awal Dzulhijjah dan tanggal Idul Adha 1446 H.
Sumber:
NU Online. (2025, Mei 26). Penentuan Awal Dzulhijjah dan Lebaran Idul Adha 2025, Berikut Data Hilal 29 Dzulqa’dah. https://nu.or.id
Tinggalkan Komentar