Hari-hari berlalu, dan Rina makin sering menulis di buku catatannya. Buku kecil bersampul hijau itu menjadi tempat paling jujur dalam hidupnya. Tak ada yang tahu. Di dalamnya, ia tumpahkan semua: kemarahan, kesedihan, rindu, dan keinginan yang tak pernah ia ucapkan pada siapa pun.
Setiap malam, setelah semua tertidur, Rina duduk di sudut tempat tidur dan membuka halaman baru.
“Hari ini aku senyum lagi. Tapi bukan karena bahagia. Aku hanya sudah terbiasa menyembunyikan apa yang aku rasakan.”
Atau:
“Kalau aku hilang besok, mungkin tidak ada yang benar-benar sadar. Tapi aku masih di sini. Bertahan. Karena aku harus.”
Menulis tidak menyelesaikan apa pun. Tapi setidaknya, ia tidak meledak. Ia bisa tetap berjalan.
Suatu siang, karena terburu-buru menjemput adiknya, Rina tak sadar meninggalkan buku itu di laci meja. Ia baru menyadari saat malam tiba. Panik. Tapi sudah terlambat.
Keesokan paginya, Mira datang lebih dulu ke kelas. Saat mencari pensil di meja Rina, ia menemukan buku itu. Ia membuka halaman pertama… lalu terdiam.
Hatinya bergetar membaca kalimat-kalimat yang tertulis. Penuh luka, tapi tenang. Dalam, tapi sunyi. Ia tahu itu milik Rina. Dan ia tahu, Rina tidak pernah bercerita tentang hal ini sebelumnya.
Mira menutup buku itu perlahan. Ia tak membaca semuanya. Tapi cukup untuk mengerti: sahabatnya sedang terluka, jauh lebih dalam dari yang ia kira.
Sepulang sekolah, mereka duduk berdua di bangku taman belakang sekolah—tempat biasa mereka bercanda.
“Minggu lalu kamu bilang kamu baik-baik aja,” kata Mira pelan. “Tapi kamu nggak harus terus bilang itu, Rin.”
Rina menoleh. Matanya langsung tertuju pada buku catatannya di tangan Mira. Wajahnya tegang.
“Kamu baca?” suaranya bergetar.
“Aku minta maaf. Aku nggak sengaja. Tapi setelah aku baca… aku cuma pengin kamu tahu: kamu nggak sendiri.”
Rina menunduk. Air mata mengalir tanpa ditahan.
“Aku capek, Mir. Aku cuma nggak mau semua orang kasihan. Nggak mau bikin kalian mikirin aku.”
Mira menggenggam tangannya.
“Ini bukan soal kasihan. Ini soal sahabat yang nggak bisa diam waktu tahu kamu kesakitan. Aku nggak datang buat menilai kamu. Aku datang buat nemenin.”
Pelan-pelan, tembok dalam diri Rina runtuh. Ia mulai bercerita. Tentang ayah, tentang ibu, tentang beban yang terlalu besar untuk anak seusianya. Mira tak menyela. Ia mendengarkan. Dan itu cukup.
Sore itu, bukan hanya rahasia yang terbuka—tapi juga ruang lega yang selama ini tertutup rapat.
Untuk pertama kalinya, Rina merasa tidak sendirian.
Dan di antara bisikan hati yang selama ini hanya ditulis di kertas, kini ada suara lain yang menjawab:
Suara sahabat yang memilih tinggal.
➤ Bersambung ke Bab 5: KEBENARAN YANG TERUNGKAP
Tinggalkan Komentar