Selamat datang di rubrik cerita fiksi khas MI Nor Rahman Banjarmasin!
Cerpen bersambung ini mengisahkan keseharian para siswa dan guru di lingkungan madrasah tercinta, dikemas dengan bahasa ringan, cerita sederhana, dan suasana yang hangat. Tokoh-tokohnya — seperti Zakky, Ikrima, Sauri, Jauza, Azizah, dan Ustaz Hafiz — hadir untuk menemani pembaca menjelajahi suka duka kehidupan sekolah, mulai dari hari pertama yang deg-degan, hingga petualangan seru di kelas dan luar kelas.
Cerita ini sepenuhnya fiktif, dibuat sebagai media hiburan dan edukasi ringan bagi siswa, guru, dan orang tua. Jika ada kesamaan nama, kejadian, atau situasi dengan dunia nyata, itu semata-mata kebetulan dan tidak disengaja.
Kami harap kisah-kisah ini bisa menumbuhkan semangat belajar, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan tentu saja — menghadirkan senyum.
Selamat membaca!
Berikut ini Episode 1 dari cerpen bersambung bertema “Bersekolah di MI Nor Rahman Banjarmasin”. Gaya bahasa sengaja dibuat ringan dan sederhana agar cocok untuk segala usia, terutama anak-anak.
Episode 1: Hari Pertama, Deg-degan!
Hari itu, langit Banjarmasin cerah. Burung-burung bersuara riang di antara pepohonan di halaman sekolah. Plang bertuliskan MI Nor Rahman berdiri tegak di gerbang. Di baliknya, anak-anak baru tampak berkerumun, ada yang senyum-senyum, ada juga yang wajahnya tegang.
Di antara kerumunan itu, berdiri seorang anak laki-laki berambut ikal. Namanya Zakky. Ia memeluk tas barunya kuat-kuat.
“Aduh… perutku mules,” gumamnya. “Kayaknya bukan karena sarapan deh.”
Dari belakang, seseorang menepuk pundaknya.
“Deg-deg-an juga, ya?”
Zakky menoleh. Seorang anak perempuan berkacamata tersenyum kecil padanya.
“Aku Ikrima. Kamu?”
“Zakky…”
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah pintu kelas.
“Assalamualaikum semuanya! Yuk, masuk ke kelas. Kita mulai hari baru kita!”
Itu suara Ustaz Hafiz, guru kelas mereka. Umurnya sekitar 30-an, tapi gayanya santai dan ramah. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
“Yang merasa jago matematika duduk di depan, yang jago makan duduk di belakang!” katanya bercanda. Anak-anak pun tertawa, suasana jadi mencair.
Sauri, anak laki-laki tinggi dan kurus, langsung duduk paling depan.
“Aku jago matematika, Ustaz!” teriaknya.
“Hebat!” Ustaz Hafiz mengacungkan jempol.
Di bangku sebelah kiri, dua anak perempuan saling berbisik.
“Aku deg-degan,” kata Jauza pelan.
“Tenang aja, kita bareng-bareng kok,” jawab Azizah menenangkan.
Setelah semua duduk, Ustaz Hafiz memperkenalkan diri.
“Nama saya Hafiz, kalian bisa panggil Ustaz Hafiz. Di kelas ini, kita belajar bukan cuma pakai otak, tapi juga hati. Yang penting, kita saling bantu dan nggak takut salah.”
Zakky diam-diam menghela napas lega. Ternyata suasana kelas nggak seseram yang ia bayangkan. Apalagi saat melihat Sauri dengan serius mencoba menyalakan kipas angin yang ternyata… nyambungnya ke dispenser!
“Salah colok, Sauri!” seru Azizah, dan seluruh kelas pun tertawa lagi.
Hari pertama belum selesai, tapi satu hal sudah pasti:
MI Nor Rahman bukan sekadar sekolah. Ini akan jadi tempat penuh cerita.
Apakah kamu ingin saya lanjut ke Episode 2 sekarang? Atau kamu ingin memberi arahan dulu tentang alur, pelajaran, atau konflik yang ingin ditambahkan?
Tinggalkan Komentar