Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, tepat setelah Muharram. Di balik nama ini, terdapat kisah sejarah dan budaya Arab kuno yang memberi warna pada makna bulan tersebut.
Menurut Imam Ibnu Katsir, Safar berasal dari kata “ṣafar” yang berarti kosong atau sepi. Saat itu, masyarakat Arab kerap meninggalkan rumah untuk perang atau perjalanan jauh, membuat rumah-rumah mereka kosong. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan:
“Safar dinamakan demikian karena rumah-rumah mereka kosong saat mereka pergi berperang dan bepergian.”
— Tafsir Ibnu Katsir, Juz IV: 146
Ibnu Manzhur menambahkan, ada tiga alasan penamaan Safar:
Dalam masyarakat, masih banyak yang meyakini bahwa bulan Safar membawa kesialan atau musibah. Namun para ulama besar menolak keyakinan ini.
“Menganggap waktu tertentu membawa kesialan, seperti bulan Safar, tidaklah benar.”
— Lathâiful Ma‘ârif, hal. 81
Menurut beliau, semua bulan adalah ciptaan Allah. Kebaikan atau keburukan yang terjadi tergantung pada amalan manusia, bukan waktunya.
“Setiap waktu yang digunakan untuk taat adalah waktu yang diberkahi. Dan waktu yang digunakan untuk maksiat adalah waktu yang buruk.”
Dalam hadis riwayat al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada wabah yang menyebar sendiri, tidak ada tanda kesialan, tidak ada burung pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”
(HR al-Bukhari)
Syekh Abu Bakar Syatha menegaskan bahwa hadis ini membantah kepercayaan jahiliah yang meyakini benda atau waktu memiliki pengaruh sendiri selain kehendak Allah.
Beberapa peristiwa besar dan penuh keberkahan justru terjadi pada bulan Safar:
Ini membuktikan bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan sial tidak berdasar.
Bulan Safar bukanlah bulan sial. Ia sama seperti bulan lainnya, tempat di mana manusia diberi kesempatan berbuat baik atau buruk.
Sebagaimana ditegaskan para ulama:
✅ Kebaikan dan musibah terjadi atas izin Allah
✅ Berkah ada pada amal, bukan waktu
✅ Mitos harus diluruskan dengan ilmu
Tinggalkan Komentar