Oleh Sarpala Hasan
(Terinspirasi dari tulisan Syaifuddin Sabda yang berjudul “Saat Didikan Disalahpahami)
Beberapa waktu terakhir, dunia pendidikan kita sering dihebohkan oleh kasus yang sebenarnya tidak perlu: guru dilaporkan ke polisi hanya karena menegur atau memberi hukuman ringan kepada siswanya. Ironis, dulu guru dihormati sebagai orang tua kedua, tapi sekarang, sedikit saja bersikap tegas, langsung dicap “melanggar hak anak”.
Kita seperti sedang hidup di masa di mana niat baik bisa disalahpahami. Padahal, teguran dan disiplin bukan bentuk kebencian, tapi wujud kasih sayang. Guru tidak ingin menyakiti, mereka hanya ingin anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang tahu batas dan tanggung jawab.
Sayangnya, sekarang banyak orang tua yang justru terlalu cepat membela anak tanpa melihat konteks. Anak yang ditegur karena merokok, bolos, atau melanggar aturan malah dibela habis-habisan. Akibatnya, siswa belajar bahwa apa pun kesalahannya, orang tua akan tetap melindungi. Ini berbahaya — karena anak tumbuh tanpa batas, tanpa rasa salah, dan tanpa karakter kuat.
Di dunia pendidikan, hukuman punya makna yang dalam. Hukuman yang benar bukan untuk melukai, tapi untuk menyadarkan. Misalnya, siswa yang datang terlambat disuruh membersihkan halaman sekolah — itu bukan penghinaan, tapi pembelajaran tentang tanggung jawab.
Selama dilakukan dengan kasih sayang dan proporsional, hukuman justru menjadi jembatan untuk memperbaiki perilaku. Guru yang menegur bukan karena benci, tapi karena peduli. Tapi kini, rasa takut sering menahan guru untuk bertindak. Mereka khawatir salah langkah, nanti berurusan dengan hukum.
Lalu apa jadinya pendidikan kalau guru takut menegur? Sekolah akan kehilangan wibawa, dan anak-anak tumbuh tanpa arah.
Yang kita butuhkan bukan saling menyalahkan, tapi keseimbangan. Anak tetap harus dilindungi, tapi guru juga perlu ruang untuk mendidik dengan bijak. Kalau semua teguran dianggap salah, siapa yang akan berani membentuk karakter generasi muda?
Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi ini:
Pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai dan rapor. Ia tentang proses panjang membentuk manusia yang beradab. Guru adalah ujung tombak moral bangsa — jika mereka kehilangan wibawa, bangsa ini kehilangan arah.
Anak yang tidak pernah ditegur akan tumbuh menjadi dewasa yang sulit dikritik. Ia mudah tersinggung, sulit menerima kesalahan, dan tidak tahan pada tekanan hidup. Sebaliknya, anak yang pernah ditegur dengan kasih sayang akan tumbuh kuat, tangguh, dan tahu arti tanggung jawab.
Jadi, mari kita berhenti melihat guru sebagai ancaman. Mereka bukan musuh anak-anak kita, tapi pelita yang menerangi masa depan mereka.
Guru tidak butuh disembah, mereka hanya ingin dihormati. Orang tua tidak perlu takut anaknya ditegur, karena itulah bagian dari proses belajar kehidupan.
Mari kita jaga keseimbangan ini bersama — lindungi anak, hormati guru, dan kuatkan keluarga. Pendidikan sejati lahir dari kerja sama, bukan saling tuduh.
Jika teguran guru masih dianggap salah, maka mungkin yang perlu kita perbaiki bukan gurunya, tapi cara kita memaknai didikan itu sendiri.
Tinggalkan Komentar