Fenomena banyak guru yang menolak menjadi kepala sekolah bukan sekadar kabar lewat angin. Ini suara lapangan. Suara yang menunjukkan betapa seriusnya beban di pundak para pendidik hari ini.
Tulisan Omjay tentang enam alasan guru enggan naik jabatan membuka mata kita. Banyak yang merasa kena. Banyak yang mengangguk pelan karena realitas itu ada di tiap ruang guru.
Namun, di balik kritik ada harapan. Dan harapan itu perlu dijaga, bukan ditinggalkan begitu saja.
Benar bahwa beban kepala sekolah melonjak. Administrasi naik. Tuntutan naik. Tekanan dari dinas, komite, dan masyarakat juga naik.
Tapi di sini kita perlu terus bersuara. Sampaikan ke dinas. Dorong kebijakan yang lebih manusiawi. Perubahan tidak datang dari diam. Guru yang kritis adalah guru yang peduli.
Tidak semua orang harus mengejar kursi itu. Tidak ada salahnya tetap ingin fokus mengajar. Namun bagi yang berniat maju, tetaplah percaya bahwa sekolah butuh pemimpin jujur, kuat, dan tenang menghadapi badai.
Kepala sekolah yang baik bukan yang sempurna, tetapi yang rela hadir, memimpin, dan berdiri paling depan ketika sekolah butuh arah.
Jika sistem belum ramah, jangan biarkan semangat pendidik ikut layu. Perubahan sering lahir dari ruang kecil, dari tindakan sederhana yang konsisten.
Guru tetap punya pengaruh besar, meski tanpa jabatan. Tetapi guru juga berhak menuntut ruang kerja yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih manusiawi.
Apa yang Omjay tuliskan bukan sekadar daftar masalah. Itu peta. Dari peta itu kita bisa memilih jalan.
Kita bisa:
Perubahan selalu lebih besar dari satu orang, tetapi selalu dimulai dari satu suara.
Guru yang memilih tetap mengajar layak dihormati. Guru yang siap menjadi kepala sekolah juga layak didukung. Dua-duanya sama mulia.
Yang penting, jangan berhenti percaya bahwa profesi ini adalah cahaya. Sekecil apa pun peran yang dijalankan, itu tetap menjadi penerang bagi banyak anak yang sedang membangun masa depan.
Kita perlu mendengar kritik. Kita perlu menyampaikan saran. Dan kita perlu menjaga semangat agar dunia pendidikan tidak kehilangan arah.
Semoga tulisan ini menjadi dorongan bagi siapa pun yang sedang ragu, lelah, atau bimbang. Dunia pendidikan masih butuh Anda. Dengan jabatan atau tanpa jabatan, cahaya tetap cahaya.
Sumber: Artikel opini Wijaya Kusumah “Inilah 6 Alasan Mengapa Banyak Guru Ogah Jadi Kepala Sekolah” di MELINTAS.ID, 15 November 2025
Tinggalkan Komentar