Dalam banyak kajian Ramadhan, kita sering membahas hal-hal yang tampak: makan, minum, menjaga lisan, menahan pandangan. Namun dalam salah satu pembahasan kitab klasik yaitu Hidayatus Salikin Karya Syekh Abdus Shomad Palembang, dibahas sesuatu yang lebih dalam, yaitu “Bab tentang Menjauhi Maksiat Batin.”
Ini pembahasan yang sangat penting. Karena sering kali yang merusak ibadah bukan hanya dosa yang terlihat, tetapi penyakit hati yang tersembunyi.
Maksiat batin adalah dosa yang terjadi di dalam hati. Tidak tampak oleh manusia, tetapi sangat jelas di sisi Allah.
Contohnya:
Secara lahir, seseorang mungkin rajin puasa, rajin shalat, bahkan aktif berdakwah. Tetapi jika hatinya penuh riya’ dan sombong, maka amal itu terancam rusak.
Karena dosa lahir sering terasa salahnya. Orang yang mencuri tahu bahwa itu dosa. Orang yang berbohong tahu bahwa itu salah.
Tetapi penyakit hati sering dianggap wajar.
Contohnya:
Padahal itu bisa menjadi bibit riya’, ujub, dan hasad.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruhnya. Itulah hati.
Ramadhan bukan hanya latihan menahan makan. Ia adalah latihan membersihkan hati.
Ketika kita menahan lapar, sebenarnya kita sedang dilatih untuk mengendalikan diri. Ketika kita menahan amarah, kita sedang membersihkan hati. Ketika kita ikhlas beribadah tanpa ingin dipuji, di situlah puasa mencapai tujuannya.
Bayangkan seseorang yang berpuasa tetapi masih iri, masih sombong, masih merasa paling benar. Secara hukum, puasanya sah. Tetapi secara ruh, ia kehilangan banyak pahala.
Dalam pembahasan para ulama, ditegaskan bahwa memperbaiki hati hukumnya wajib. Bukan sekadar tambahan.
Seseorang tidak boleh merasa cukup hanya dengan ibadah lahir. Ia harus bertanya pada dirinya:
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah bagian dari muhasabah.
Beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk ini. Karena suasananya mendukung. Ibadahnya banyak. Hati lebih lembut.
Puasa yang sempurna bukan hanya yang menahan lapar dan haus. Tetapi puasa yang juga menahan iri, menahan sombong, menahan riya’.
Maksiat batin mungkin tidak terlihat oleh manusia. Tapi ia sangat nyata di sisi Allah.
Maka mari kita jadikan Ramadhan ini bukan hanya bulan menahan makan, tetapi juga bulan membersihkan hati.
Karena boleh jadi, yang paling berat bukan menahan lapar. Tetapi menundukkan ego.
Tinggalkan Komentar