Kemampuan menulis tidak hanya bertujuan agar peserta didik mampu menyusun kalimat dengan baik. Lebih dari itu, kegiatan menulis dapat menjadi sarana untuk mengenalkan peserta didik pada dirinya sendiri. Ketika anak mampu mengenali siapa dirinya, ia akan lebih mudah memahami potensi, menerima kelebihan dan kekurangan, serta menghargai perbedaan dengan orang lain.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V pada materi “Aku yang Unik”, saya mengajak peserta didik untuk menulis tentang diri mereka sendiri. Mereka diminta menuliskan nama, ciri fisik, sifat, hobi, dan cita-cita. Sekilas tugas ini terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat proses pembelajaran yang sangat bermakna.
Saat peserta didik mulai menulis, saya melihat beragam jawaban yang menarik. Ada yang menggambarkan dirinya sebagai anak yang pendiam, ada yang periang, ada yang jujur, ramah, dan rajin. Mereka juga memiliki hobi yang berbeda, seperti berenang, bermain bola, menggambar, mewarnai, bersepeda, hingga bermain bulu tangkis. Begitu pula dengan cita-cita mereka. Sebagian ingin menjadi dokter, guru, polisi, atlet, pilot, chef, pengusaha, arsitek, bahkan desainer.
Keberagaman jawaban tersebut menunjukkan bahwa setiap anak memiliki identitas, minat, dan impian yang berbeda. Tidak ada jawaban yang sama persis. Inilah bukti bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan yang patut dihargai.
Melalui kegiatan ini, peserta didik tidak hanya belajar menulis kalimat sederhana, tetapi juga belajar mengenali dirinya sendiri. Mereka mulai berpikir tentang sifat yang dimiliki, kebiasaan yang disukai, dan impian yang ingin diwujudkan pada masa depan. Proses ini membantu mereka membangun rasa percaya diri sekaligus menumbuhkan motivasi untuk terus belajar.
Sebagai guru, saya juga memperoleh banyak informasi mengenai karakter peserta didik. Tulisan mereka memberikan gambaran tentang kepribadian, minat, serta cita-cita yang dapat menjadi dasar dalam memberikan bimbingan dan motivasi selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan memahami peserta didik lebih dekat, guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka.
Saya meyakini bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menulis. Pembelajaran ini juga dapat menjadi media untuk membentuk karakter, melatih kemampuan berpikir, serta mengembangkan rasa percaya diri peserta didik. Menulis tentang diri sendiri merupakan salah satu cara sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan mereka.
Setiap anak adalah pribadi yang unik. Tugas seorang guru bukan menyamakan mereka, melainkan membantu setiap peserta didik menemukan potensi terbaik yang dimilikinya. Ketika anak mampu mengenal dirinya sendiri, ia akan lebih siap menghargai orang lain dan lebih percaya diri dalam meraih cita-citanya.
Penulis:
Muhammad Hafiz Ansyari, S.Pd.
Wali Kelas VA MIS Nor Rahman Banjarmasin
Tinggalkan Komentar