Untuk bisa memahami akidah dengan benar, setiap Muslim perlu tahu cara kerja akal. Dalam ilmu tauhid, ada tiga kategori penting dalam hukum akal: wajib, mustahil, dan jaiz.
Ini bukan filsafat rumit kok—justru sangat logis dan bisa kamu pahami dengan mudah.
Contoh gampang: pohon pasti menempati tempat di tanah. Kalau ada yang bilang, “Pohon itu nggak ambil tempat di bumi,” akal kita langsung nolak. Nggak masuk akal, kan?
Itulah hukum wajib—sesuatu yang nggak mungkin tidak ada. Dalam akidah, sifat-sifat Allah seperti hidup, berkuasa, berilmu adalah wajib. Artinya, tidak mungkin Allah itu tidak hidup, tidak kuasa, atau tidak tahu.
Contoh: sebuah benda tidak bergerak dan tidak diam pada saat yang sama. Nggak mungkin! Akal langsung nolak.
Itulah mustahil—sesuatu yang akal nggak bisa terima keberadaannya. Dalam tauhid, misalnya, Allah itu lemah adalah mustahil. Karena kelemahan itu bertentangan dengan sifat Allah yang Maha Kuasa.
Contoh: Zaid punya anak. Bisa saja iya, bisa saja tidak. Dua-duanya mungkin.
Inilah jaiz—akal menerima dua kemungkinan. Dalam akidah, misalnya: Allah memberi rezeki seseorang atau tidak—itu boleh (jaiz). Terserah kehendak-Nya.
Karena memahami 3 hukum akal ini adalah dasar untuk memahami akidah yang benar. Kata Imam Haramain:
“Siapa yang tidak tahu arti wajib, mustahil, dan jaiz—maka dia belum disebut sebagai orang yang berakal.”
| Kategori | Artinya | Contoh |
|---|---|---|
| Wajib | Akal tidak menerima ketiadaannya | Allah itu Maha Kuasa |
| Mustahil | Akal tidak menerima keberadaannya | Allah itu lemah |
| Jaiz | Bisa ada, bisa tidak, tergantung kehendak | Allah memberi rezeki ke Zaid atau tidak |
Sumber:
Tinggalkan Komentar