🖋️ Oleh: Zahrina Syifa (Siswa MIS Nor Rahman Banjarmasin Angkatan 2024-2025)
Karya ini adalah bagian pertama dari serial novel “Retaknya Rumah Kenangan” yang ditulis oleh Zahrina Syifa, siswi kelas VI MIS Nor Rahman Banjarmasin. Kisah ini akan diterbitkan setiap minggu di website madrasah sebagai bentuk ekspresi dan apresiasi karya literasi siswa.
JUDUL: RETAKNYA RUMAH KENANGAN
PENULIS: ZAHRINA SYIFA
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan rahmat, hidayah, dan kasih sayang-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan novel berjudul “Retaknya Rumah Kenangan” ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri tauladan seluruh umat manusia.
Novel ini adalah ungkapan hati. Ia lahir dari kejujuran perasaan yang mungkin tak mudah disampaikan langsung: tentang keluarga yang rapuh, anak-anak yang memendam luka, dan harapan yang tumbuh pelan-pelan di antara runtuhan kasih sayang.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Nor Rahman Banjarmasin, para guru yang sabar membimbing, serta teman-teman yang menjadi bagian dari perjalanan saya. Semoga karya ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak merasa aman dan dicintai.
Semoga bermanfaat.
Banjarmasin, 6 Mei 2025
Zahrina Syifa
DAFTAR TOKOH
BAB 1: LUKA YANG MENGANGA
Langit pagi di kota kecil itu berwarna abu-abu, seolah ikut merasakan hati Rina yang sedang beku. Udara masih dingin, dan embun belum sepenuhnya mengering dari kaca jendela. Rina duduk di tepi ranjang, memandangi jam dinding yang berdetak pelan. Sudah pukul 06.20. Ia harus segera bersiap ke sekolah, tapi tubuhnya enggan bergerak.
Kepalanya masih berat. Malam tadi ia tidak benar-benar tidur. Pertengkaran antara ibunya dan ayah melalui telepon kembali terjadi. Kata-kata keras, makian yang menusuk, dan tangis ibunya kembali mengisi ruang tamu. Rina hanya bisa memeluk adiknya yang ketakutan di dalam kamar.
Ayah mereka sudah pergi sejak dua tahun lalu, tapi bayangannya masih memenuhi rumah ini. Kepergiannya menyisakan luka dalam—terutama untuk ibunya, yang sejak itu berubah. Bukan lagi wanita lembut yang dulu selalu menyuapi Rina saat sakit, tapi seseorang yang cepat marah, mudah tersinggung, dan sulit diajak bicara.
Rina menarik napas panjang, lalu bangkit dari ranjang. Ia menyiapkan seragam sekolahnya, lalu menyisir rambutnya perlahan. Di depan cermin, ia memasang senyum. Senyum itu palsu, tapi penting. Itu pelindungnya. Tameng yang ia bawa setiap hari agar dunia tidak tahu bahwa ia sedang hancur pelan-pelan.
“Rina! Cepat sarapan, kamu nanti telat lagi!” teriak ibunya dari dapur.
Rina bergegas turun. Di meja makan, ibunya sedang menyuapi adiknya dengan terburu-buru. Wajahnya lelah, matanya sembab. Rina tidak berani berkata apa-apa. Ia hanya duduk, mengambil roti tawar seadanya, dan makan pelan-pelan.
“Nanti pulang jangan langsung main,” kata ibunya tiba-tiba. “Kamu bantu bersihkan rumah. Jangan cuma tahu tidur di kamar.”
“Iya, Ma,” jawab Rina pelan.
Tidak ada percakapan hangat. Tidak ada pelukan pagi. Hanya perintah, diam, dan rasa sesak yang makin lama makin biasa.
Di perjalanan ke sekolah, Rina naik angkot seperti biasa. Ia duduk di pojok, menatap keluar jendela. Orang-orang berjalan, toko-toko mulai buka, dan langit mulai terang. Tapi hatinya tetap mendung.
Sesampainya di sekolah, wajah Rina berubah. Ia tersenyum saat bertemu teman-temannya. Nur melambai dari gerbang, Mira sudah menunggu di depan kelas.
“Rin! Rambutmu bagus hari ini. Kamu pakai apa?” tanya Nur riang.
“Cuma disisir biasa,” jawab Rina sambil tertawa kecil.
Mereka berbincang sejenak sebelum guru datang. Rina kembali pada perannya: gadis ceria, pintar, dan disukai semua orang. Tak ada yang tahu bahwa malam tadi ia menangis sampai tertidur.
Di sela istirahat, Rina duduk di taman sekolah. Mira menghampiri dengan dua kotak susu kedelai.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Mira hati-hati.
Rina tersenyum. “Aku baik-baik saja. Cuma capek.”
Mira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rina lama, sebelum berkata, “Kalau suatu hari kamu pengin cerita, aku di sini, ya. Nggak usah dipaksa hari ini.”
Rina menunduk. Di dalam hatinya, perasaannya mengaduk-aduk. Ia ingin bicara, tapi takut. Ia ingin menangis, tapi malu.
Hari itu berlalu seperti biasa. Tapi saat Rina pulang dan masuk ke kamarnya, ia membuka jendela, menatap langit yang mulai berubah warna.
“Kalau aku jujur… akankah mereka tetap ada untukku?” bisiknya pelan.
Lalu ia kembali memasang senyum, bersiap menghadapi malam yang mungkin akan kembali ribut, dan pagi yang menuntut senyum palsu berikutnya.
Tapi di suatu tempat dalam hatinya, mulai tumbuh secercah harapan: mungkin, suatu hari nanti, ia tak harus pura-pura lagi.
{Bersambung ke BAB 2: MENCARI PELARIAN} Nantikan kelanjutannya minggu depan hanya di website MIS Nor Rahman Banjarmasin.
Sebuah alur cerita yang bagus, lebih bagus lagi untuk menambah suasana agamis, awal jumpa pertama, salam , bagaimana kabarmu hari ini, kalau yang ditanya bagusnya rambutmu terbayang tidak pakai kerudung, trimakasih, Mantaap , teruskan dan lanjuuut, Mantaap
Ada berapa bab isi novelnya…. Cerita di awal sangat menarik… Sangat di tunggu bab 2 sampai selanjutnya…. Bisa lah dalam 1 minggu terbit 2 bab… Sangat dinanti lanjutannya
Tinggalkan Komentar