Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa—tapi tidak benar-benar biasa di dalam hati Rina. Rumah tetap dingin, ibunya tetap diam atau meledak, dan malam-malam masih penuh kecemasan. Namun Rina mulai terbiasa menjalani dua dunia: dunia luar tempat ia tampak ceria, dan dunia dalam tempat ia menangis diam-diam.
Di sekolah, ia tetap tersenyum, tertawa, ikut bercanda. Teman-temannya tak tahu bahwa setiap malam ia menjadi penjaga emosi di rumah—menenangkan adik, memahami ibu, dan menyimpan rindu pada ayah yang tak kembali.
Hari itu, saat istirahat kedua, mereka berlima duduk di bawah pohon akasia di pojok taman sekolah.
“Rin, nanti sore ke taman kota yuk,” ajak Nur dengan antusias. “Cuacanya cerah. Bawa camilan, kita santai bareng.”
“Boleh,” jawab Rina cepat. Ia butuh udara. Butuh suasana lain.
Setelah sekolah, mereka bertemu di taman kota. Rumput hijau, anak-anak berlarian, suara burung, dan angin sore membuat suasana terasa ringan. Mereka duduk melingkar di atas tikar kecil yang dibawa Nadya.
“Kayaknya udah lama ya kita nggak ngumpul kayak gini,” ujar Ila.
“Iya, terakhir pas ulang tahun Nur, kan?” sahut Mira.
Rina tertawa kecil, tapi matanya menerawang jauh. Ia menyukai momen ini—ketika tak perlu menjelaskan apa pun. Cukup duduk, cukup tertawa.
Mira memperhatikannya dari samping. Ia tahu, di balik tawa itu, masih ada sesuatu yang disembunyikan.
“Rin,” kata Mira pelan, menoleh padanya. “Kamu masih nggak mau cerita?”
Rina diam sebentar, lalu menggeleng.
“Bukan nggak mau, Mir. Aku cuma… takut bikin kalian repot. Nggak mau kalian ikut mikirin masalahku.”
Nur yang duduk di dekat mereka langsung menyahut, “Eh, kita tuh temen, Rin. Kamu senang, kita senang. Kamu sedih, kita juga pengin ada buat kamu.”
Nadya menambahkan, “Kamu nggak harus cerita semuanya sekarang. Tapi jangan pernah pikir kamu harus jalanin semuanya sendiri.”
Sore itu, meski Rina belum bisa jujur sepenuhnya, hatinya terasa lebih hangat. Ia pulang membawa sesuatu yang berbeda: rasa bahwa ada tempat untuk beristirahat, walau hanya sebentar.
Di kamar malam harinya, Rina membuka jendela. Langit malam bersih, bintang-bintang berkilau tenang.
“Terima kasih, ya Allah… Setidaknya hari ini aku bisa sedikit bernapas.”
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia tertidur tanpa menangis.
Ditunggu bab selanjutnya
Tinggalkan Komentar