Tanggapan terhadap artikel Muhamad Dhofier di Arina.id
Penulis: Muhammad Hafiz Ansyari
Pendidikan Indonesia kerap dibedah lewat angka, kebijakan, dan jargon kurikulum. Tapi di tengah semua itu, satu fakta tetap tak tergantikan: mutu pendidikan tidak akan pernah melampaui mutu guru.
Dalam artikel berjudul “Agar Pembelajaran di Kelas Semakin Kreatif, Guru Harus Jadi Pembaca yang Tekun” (Arina.id, 1 Agustus 2025), Muhamad Dhofier menyampaikan kritik sekaligus seruan yang tajam: perubahan pendidikan tidak boleh hanya menunggu dari atas — guru harus berani mulai dari dirinya sendiri.
Kita hidup di masa di mana “deep learning” telah masuk ke kurikulum nasional, dan AI mulai digunakan dalam ruang kelas. Tapi sayangnya, masih banyak guru yang kesulitan menyalakan projector, apalagi memahami pedagogi digital.
Mengutip Dhofier, “Belajar adalah proses mengaktifkan badan, pikiran, dan imajinasi.” Maka, guru tidak cukup hanya ‘mengajar’, tapi harus menjadi fasilitator yang tumbuh bersama murid.
Guru yang malas membaca:
Sadar atau tidak, murid bukan lagi objek pasif. Mereka kritis, terhubung digital, dan butuh ruang belajar yang dinamis. Guru yang terus diam — menunggu modul, menunggu BOS, menunggu revisi kurikulum — akan ditinggal zaman.
Jika kita sungguh ingin menuju Indonesia Emas 2045, revolusi harus dimulai dari ruang guru.
Dan seperti kata Dhofier:
“Pembelajaran terbaik bukan karena metodenya yang hebat, melainkan ketulusan gurunya melayani hak belajar siswa sepenuh-penuhnya.”
🔁 Bagikan artikel ini jika kamu percaya bahwa perubahan pendidikan dimulai dari satu guru yang membaca, berpikir, dan bertindak.
Tinggalkan Komentar