Oleh: Muhammad Hafiz Ansyari ( Guru MIS Nor Rahman Banjarmasin )
Di era media sosial seperti sekarang, perhatian anak-anak semakin mudah teralihkan. Video pendek, gim daring, dan konten hiburan instan sering kali lebih menarik dibandingkan membuka buku. Akibatnya, kebiasaan membaca perlahan mulai ditinggalkan, termasuk di lingkungan madrasah. Padahal, membaca merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter, akhlak, dan kecerdasan peserta didik.
Bagi warga madrasah, khususnya di MIS Nor Rahman, membaca bukan sekadar aktivitas akademik. Membaca adalah bagian dari ikhtiar menuntut ilmu. Buku mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan memahami makna secara mendalam. Nilai-nilai ini sangat sejalan dengan pendidikan Islam yang menekankan proses, bukan hasil instan.
Membangun kembali kebiasaan membaca tidak harus dimulai dari buku yang berat. Anak-anak dapat diajak membaca cerita islami, kisah teladan nabi, atau buku pengetahuan bergambar yang sesuai dengan usia mereka. Ketika membaca terasa menyenangkan, rasa ingin tahu akan tumbuh dengan sendirinya.
Peran guru dan orang tua sangat menentukan. Guru dapat memberi contoh dengan membiasakan kegiatan literasi singkat di kelas, seperti membaca bersama selama 10–15 menit sebelum pelajaran dimulai. Orang tua pun bisa mendukung dengan menyediakan waktu membaca di rumah, misalnya setelah magrib atau sebelum tidur, menggantikan waktu bermain gawai.
Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi yang panjang. Membaca sebentar tetapi rutin akan lebih berdampak daripada membaca lama namun jarang. Kebiasaan kecil ini melatih fokus anak dan membantu mereka memahami pelajaran dengan lebih baik, baik pelajaran umum maupun keagamaan.
Selain meningkatkan kemampuan berpikir, membaca juga membantu membentuk empati dan akhlak. Melalui cerita dan pengetahuan, anak-anak belajar memahami perasaan orang lain, menghargai perbedaan, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Inilah bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman.
Madrasah sebagai pusat pendidikan memiliki peran strategis dalam menghidupkan budaya literasi. Dengan menjadikan buku sebagai sahabat, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Semoga kebiasaan membaca dapat terus tumbuh di lingkungan MIS Nor Rahman dan menjadi amal jariyah bagi seluruh warga madrasah yang ikut menanamkannya.
Tinggalkan Komentar