Oleh : Muhammad Hafiz Ansyari ( Wali Kelas 2 B )
Jujur, saya sedang mengalami hal ini. Di kelas, ada saja siswa yang sulit dikendalikan, suka bikin gaduh, bahkan menguji kesabaran. Kadang saya merasa kewalahan. Tapi saya sadar, memarahi atau membentak bukanlah solusi. Justru bisa memperburuk keadaan.
Karena itu, saya mencari cara bagaimana menghadapi siswa yang susah diatur dengan lebih bijak. Dan inilah 10 pelajaran penting yang saya catat, sekaligus sebagai pengingat untuk diri saya sendiri.
Tidak semua siswa cocok dengan satu cara belajar. Kalau kelas terasa ribut, mungkin metode saya yang membosankan. Diskusi, game, role play, atau proyek kecil bisa jadi solusi. Intinya, saya harus fleksibel.
Kalau aturan dibuat sepihak, siswa biasanya kurang peduli. Tapi kalau mereka ikut menentukan, rasa tanggung jawabnya lebih besar. Jadi, penting untuk duduk bersama di awal dan menyepakati aturan kelas.
Teriakan hanya bikin suara saya habis dan suasana makin panas. Alternatifnya? Isyarat tangan, tatapan, atau sekadar berhenti bicara sampai kelas tenang. Kadang, diam lebih tegas daripada teriak.
Daripada bilang “Jangan ribut!”, lebih baik saya bilang “Yuk, kita fokus dulu”. Ternyata, pilihan kata bisa memengaruhi respon mereka.
Menyebut anak “nakal” atau “bandel” tidak membantu. Semua siswa punya sisi baik. Kalau saya beri apresiasi, sekecil apa pun, mereka biasanya akan lebih termotivasi berperilaku positif.
Anak yang tidak bisa diam, belum tentu nakal. Bisa jadi bosan, butuh gerak, atau bahkan punya kondisi khusus. Kalau saya tahu alasannya, saya bisa menyesuaikan cara mengajar agar energi mereka tersalurkan dengan tepat.
Kadang, siswa hanya ingin didengar. Dengan ngobrol santai di luar jam pelajaran, saya bisa tahu apa yang mereka rasakan. Hubungan yang lebih dekat sering membuat mereka lebih kooperatif.
Hukuman bukan berarti marah-marah. Konsekuensi yang disepakati bersama lebih efektif. Misalnya, jika melanggar aturan, siswa mendapat tugas tambahan yang mendidik, bukan hukuman fisik.
Kalau masalahnya cukup berat, saya tidak bisa sendirian. Berkomunikasi dengan orang tua membantu mencari solusi terbaik. Tujuannya bukan untuk mengadu, tapi bekerja sama demi perkembangan anak.
Ini yang paling sulit: sabar. Mengontrol emosi itu berat, apalagi kalau kelas sedang ricuh. Tapi kalau saya bisa tenang, saya bisa berpikir jernih dan mengambil langkah yang lebih bijak.
Menghadapi siswa yang susah diatur memang menantang. Tapi saya harus ingat: setiap anak punya potensi, dan tugas saya bukan hanya mengajar, tapi juga membimbing. Marah mungkin memuaskan sesaat, tapi sabar akan membuahkan hasil jangka panjang.
📌 Sumber inspirasi & referensi utama: Artikel “10 Cara Mengatasi Siswa yang susah Diatur, Jangan Dimarahi!” oleh Nita Oktifa di Aku Pintar
Tinggalkan Komentar