Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mungkin sudah menggunakannya tanpa menyadari bahwa teknologi tersebut menggunakan AI. Mesin pencari, rekomendasi video, penerjemah bahasa, aplikasi pengenal suara, hingga berbagai aplikasi pembelajaran kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Perkembangan AI juga mulai memberikan perubahan dalam dunia pendidikan. Guru dapat memanfaatkan AI untuk membantu menyiapkan pembelajaran. Peserta didik dapat menggunakannya untuk mencari penjelasan, mendapatkan ide, dan belajar sesuai kebutuhannya.
Namun, AI bukan pengganti guru. Teknologi ini seharusnya menjadi alat bantu yang digunakan secara bijak. UNESCO menekankan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan perlu tetap menempatkan manusia sebagai pusat dari proses pendidikan.
Secara sederhana, kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer atau mesin melakukan berbagai pekerjaan yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia.
Kemampuan tersebut antara lain memahami bahasa, mengenali gambar, menganalisis informasi, menemukan pola, memberikan rekomendasi, dan menghasilkan tulisan atau gambar.
Salah satu perkembangan AI yang banyak dikenal saat ini adalah Generative AI. Teknologi ini dapat menghasilkan berbagai bentuk informasi berdasarkan perintah yang diberikan pengguna. Misalnya, AI dapat membantu membuat teks, merangkum informasi, membuat ide pembelajaran, menyusun pertanyaan, atau membantu menjelaskan suatu materi.
Meski terlihat canggih, AI tetap memiliki keterbatasan. Jawaban yang diberikan belum tentu selalu benar. Karena itu, informasi dari AI tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber yang terpercaya.
Dunia pendidikan terus mengalami perubahan. Peserta didik saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Karena itu, sekolah dan madrasah perlu mempersiapkan mereka agar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara menggunakannya secara bertanggung jawab.
UNESCO pada tahun 2024 menerbitkan AI Competency Framework for Students. Kerangka tersebut mendorong peserta didik untuk memahami AI, menggunakannya dengan benar, serta mampu menilai hasil yang diberikan oleh AI secara kritis.
Artinya, pendidikan AI tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi. Peserta didik juga perlu belajar tentang etika, keamanan, tanggung jawab, dan kemampuan memeriksa informasi.
AI dapat membantu guru dalam berbagai pekerjaan. Salah satunya adalah membantu menyiapkan bahan pembelajaran.
Guru dapat menggunakan AI untuk mencari ide kegiatan pembelajaran, membuat contoh soal, menyusun latihan, membuat rangkuman materi, atau mendapatkan alternatif metode mengajar.
Misalnya, seorang guru ingin mengajarkan materi tentang lingkungan kepada peserta didik kelas V. Guru dapat meminta AI memberikan beberapa contoh aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan usia peserta didik. Setelah itu, guru memilih dan menyesuaikan ide tersebut dengan kondisi kelas.
Dengan cara ini, guru tidak menyerahkan pembelajaran kepada AI. Guru tetap menjadi pihak yang menentukan tujuan, materi, metode, dan penilaian.
UNESCO juga menempatkan kemampuan menggunakan AI untuk pembelajaran sebagai salah satu kompetensi penting bagi guru. Kerangka kompetensi UNESCO mencakup lima bidang, yaitu pola pikir yang berpusat pada manusia, etika AI, dasar dan penerapan AI, pedagogi AI, serta AI untuk pengembangan profesional guru.
Setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang cepat memahami materi. Ada pula yang membutuhkan penjelasan lebih sederhana dan latihan lebih banyak.
AI dapat membantu menyediakan variasi penjelasan dan latihan sesuai kebutuhan. Dalam pembelajaran tertentu, teknologi dapat membantu memberikan materi atau latihan dengan tingkat kesulitan yang berbeda.
OECD menyebutkan bahwa teknologi digital, termasuk AI, memiliki peluang untuk membantu personalisasi pembelajaran dan membuat pendidikan lebih inklusif.
Namun, guru tetap perlu memantau proses tersebut. Peserta didik tidak boleh dibiarkan belajar hanya berdasarkan jawaban AI tanpa bimbingan.
AI juga dapat menjadi teman belajar tambahan.
Ketika peserta didik belum memahami suatu materi, mereka dapat meminta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Mereka juga dapat meminta contoh, latihan soal, atau pertanyaan untuk menguji pemahaman.
Misalnya, peserta didik belum memahami konsep pecahan. AI dapat diminta memberikan penjelasan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, AI juga dapat membantu memberikan contoh kosakata dan kalimat. Dalam pembelajaran Al-Qur’an, teknologi dapat digunakan sebagai pendukung untuk mencari informasi tentang materi, tetapi guru tetap menjadi rujukan utama dalam memastikan ketepatan bacaan, tajwid, makhraj, dan pemahaman keagamaan.
Pekerjaan guru tidak hanya mengajar di kelas. Guru juga memiliki berbagai tugas administrasi.
AI dapat membantu pekerjaan tertentu seperti membuat rancangan awal materi, menyusun daftar pertanyaan, membuat ide kegiatan, merangkum dokumen, atau mengembangkan bahan evaluasi.
Hal ini dapat membantu guru menggunakan waktu secara lebih efektif. Waktu yang tersedia kemudian dapat digunakan untuk hal yang lebih penting, seperti berinteraksi dengan peserta didik, membimbing mereka, dan memberikan perhatian kepada peserta didik yang mengalami kesulitan.
U.S. Department of Education juga melihat AI sebagai teknologi yang dapat mendukung proses mengajar dan belajar, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan kebijakan, pengawasan, dan pertimbangan dari guru serta pengelola pendidikan.
AI tidak hanya digunakan untuk mencari jawaban.
Guru dan peserta didik dapat memanfaatkannya untuk mencari ide. Misalnya, peserta didik dapat meminta beberapa gagasan untuk membuat cerita pendek, puisi, poster pendidikan, atau proyek kelas.
Setelah mendapatkan ide, peserta didik tetap perlu mengembangkan hasilnya sendiri.
Hal ini penting agar AI tidak membuat peserta didik menjadi pasif. Tujuannya bukan agar peserta didik tinggal menyalin hasil dari AI, tetapi agar mereka mampu menggunakan teknologi sebagai alat untuk mengembangkan pemikiran dan kreativitas.
Di balik manfaatnya, AI memiliki risiko yang perlu diperhatikan.
Pertama, informasi yang diberikan AI bisa salah. AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata tidak sesuai fakta.
Kedua, peserta didik dapat menjadi terlalu bergantung pada AI. Jika setiap tugas langsung diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir, membaca, menulis, dan memecahkan masalah dapat tidak berkembang secara optimal.
Ketiga, terdapat persoalan privasi dan keamanan data. Pengguna harus berhati-hati ketika memasukkan informasi pribadi ke dalam aplikasi AI.
Keempat, terdapat persoalan kejujuran akademik. Peserta didik perlu memahami bahwa menggunakan AI untuk membantu belajar berbeda dengan meminta AI mengerjakan seluruh tugas kemudian mengakuinya sebagai hasil sendiri.
UNESCO mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan perlu memperhatikan perlindungan data, keamanan, kesetaraan akses, etika, dan kepentingan peserta didik.
Kemajuan AI tidak berarti guru menjadi tidak diperlukan.
Justru, semakin berkembang teknologi, semakin penting peran guru dalam membimbing peserta didik.
Guru membantu peserta didik membedakan informasi yang benar dan salah. Guru mengajarkan nilai, etika, tanggung jawab, dan sikap. Guru juga memahami kondisi peserta didik secara langsung.
AI dapat memberikan informasi. Namun, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan informasi.
Pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan karakter, sikap, akhlak, tanggung jawab, dan hubungan antarmanusia.
Karena itu, hubungan yang ideal bukan guru melawan AI, tetapi guru menggunakan AI untuk memperkuat pembelajaran.
Penggunaan AI dapat dimulai dari kegiatan sederhana.
Guru dapat menggunakan AI untuk:
Peserta didik dapat menggunakan AI untuk:
Yang paling penting adalah memeriksa kembali informasi yang diberikan AI.
AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan sumber kebenaran tunggal.
AI akan terus berkembang. Dunia pendidikan tidak dapat mengabaikan perubahan tersebut.
OECD dan Komisi Eropa pada tahun 2026 menerbitkan Empowering Learners for the Age of AI, sebuah kerangka literasi AI untuk pendidikan dasar dan menengah. Kerangka tersebut menekankan pentingnya kemampuan peserta didik untuk memahami cara kerja AI, menilai hasilnya secara kritis, serta menggunakannya secara etis dan kreatif.
Ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan AI mulai menjadi bagian penting dari literasi peserta didik.
Sekolah dan madrasah tidak harus langsung menggunakan teknologi AI yang rumit. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menggunakan teknologi dengan benar.
Peserta didik perlu belajar bahwa teknologi harus digunakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir.
Kecerdasan Buatan merupakan salah satu perkembangan teknologi yang membawa perubahan dalam dunia pendidikan. AI dapat membantu guru menyiapkan pembelajaran, membantu peserta didik memahami materi, memberikan variasi latihan, serta membuka ruang untuk kreativitas.
Namun, AI bukan solusi untuk semua persoalan pendidikan.
Penggunaannya tetap membutuhkan guru, aturan, pengawasan, dan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik harus belajar menggunakan AI dengan jujur dan bertanggung jawab. Guru juga perlu meningkatkan kemampuan agar dapat memanfaatkan AI secara tepat.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Tujuan utama pendidikan tetap membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, mampu berpikir kritis, dan bertanggung jawab.
AI dapat membantu proses tersebut. Tetapi arah pendidikan tetap berada di tangan manusia.
Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO.
Miao, F., Cukurova, M. (2024). AI competency framework for teachers. UNESCO.
Miao, F., Shiohira, K., & Lao, N. (2024). AI competency framework for students. UNESCO.
OECD. (2023). Digital education. OECD.
OECD. (2025). What should teachers teach and students learn in a future of powerful AI? OECD Education Spotlights No. 20. OECD Publishing.
OECD & European Commission. (2026). Empowering Learners for the Age of AI: An AI Literacy Framework for Primary and Secondary Education. OECD Publishing.
U.S. Department of Education, Office of Educational Technology. (2023). Artificial Intelligence and the Future of Teaching and Learning: Insights and Recommendations.
Tinggalkan Komentar