Beberapa hari terakhir, media sosial ramai dengan tarian bocah di ujung perahu pacu jalur yang viral karena disebut memancarkan “Aura Farming 100/10.” Tren ini bahkan diikuti oleh pesohor dunia seperti Marc Marquez dan Luna Maya. Tapi, di balik viralnya ekspresi anak tersebut, ada satu hal penting yang patut kita bahas dalam dunia pendidikan: bagaimana sekolah merespons ekspresi anak-anak hari ini?
Istilah ini sebenarnya bermakna metaforis: “menumbuhkan aura diri” tanpa dibuat-buat. Anak dalam video itu menari dengan percaya diri, bebas, dan penuh energi — bukan untuk pamer, tapi untuk mengekspresikan diri. Justru karena natural dan tidak berusaha keren, ia terlihat lebih keren dari yang lainnya.
Dalam konteks pendidikan, “aura farming” bisa dimaknai sebagai pembentukan karakter yang otentik.
Bukan karakter instan karena ingin pujian, bukan sekadar hafalan nilai moral, tapi karakter yang tumbuh dari kebiasaan, contoh, dan ruang ekspresi yang sehat.
Kalau “farming” berarti menanam dan merawat, maka sekolah harus menjadi “lahan” tempat aura anak-anak ini tumbuh:
✅ Percaya diri
✅ Berani tampil
✅ Otentik
✅ Tidak takut ditertawakan
✅ Tidak dibentuk dari perintah, tapi dari kebebasan bertanggung jawab
Anak dalam video itu bukan lulusan pelatihan public speaking. Ia hanya diberi ruang. Dan hasilnya? Dunia melihat auranya.
Momen ini seharusnya menjadi refleksi kita:
Mari ubah paradigma bahwa sekolah hanya tempat belajar akademik.
Sekolah harus jadi tempat di mana anak merasa dihargai saat menjadi dirinya sendiri.
Aura tidak diajarkan, tapi tumbuh. Dan tugas kita sebagai pendidik adalah menyiramnya dengan apresiasi, kepercayaan, dan ruang untuk tampil apa adanya.
Muhammad Hafiz Ansyari — Pegiat pendidikan karakter, penulis lepas, dan pengamat isu-isu pendidikan berbasis nilai dan budaya lokal.
Tinggalkan Komentar