Memasuki tahun ajaran baru 2025, saya merasa tantangan guru tidak hanya soal teknis pembelajaran, tetapi juga soal kesiapan mental dan budaya kerja kita sendiri. Saat membaca artikel Francois Rynasher Mamarimbing berjudul “Tantangan Guru Dalam Pembelajaran Awal Tahun 2024! Ini Solusinya” yang terbit di GuruInovatif.id, saya sepakat bahwa adaptasi kurikulum, manajemen kelas, serta motivasi siswa adalah tantangan nyata di awal tahun. Namun menurut saya, ada tantangan yang lebih mendasar: keberanian guru untuk berubah, bukan sekadar bertahan.
Francois menyinggung pentingnya adaptasi kurikulum baru. Benar, tapi sering kali kita hanya berhenti di tataran memahami dokumen kurikulum, bukan mengubah cara kita mengajar. Adaptasi itu bukan hanya soal mengerti struktur kurikulum, tetapi tentang bagaimana kita mendesain pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid hari ini, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Di artikel itu juga disebutkan bahwa siswa pasca liburan seringkali lesu dan tidak termotivasi. Saya sepakat, tapi mari kita refleksi: apakah semangat belajar kita sebagai guru sudah cukup menyala?
Sering kali, motivasi siswa padam karena mereka tidak menemukan inspirasi dari guru-gurunya. Kalau guru datang ke kelas sekadar rutinitas, jangan harap siswa akan bersemangat.
Saya juga tertarik dengan bahasan teknologi pendidikan yang dibahas dalam artikel tersebut. Tapi yang perlu kita garis bawahi: teknologi hanyalah alat, bukan solusi utama.
Tantangannya bukan lagi soal bisa atau tidaknya pakai LMS, tapi apakah kita sudah membangun budaya digital di kelas kita. Budaya di mana siswa dan guru sama-sama belajar teknologi sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar proyek sekolah.
Francois mendorong kolaborasi antar guru sebagai solusi. Saya sangat mendukung itu. Tapi realitanya, tidak semua sekolah punya budaya kolaborasi yang kuat. Kalau tidak ada, guru jangan pasif menunggu. Bangun sendiri ruang-ruang kolaborasi itu. Bisa lewat grup diskusi daring, komunitas belajar, atau sekadar saling sharing strategi pembelajaran.
Tahun ajaran baru 2025 ini adalah momen yang tepat untuk mengganti mentalitas bertahan menjadi mentalitas berkembang. Guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tapi agen perubahan yang terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri.
Terima kasih kepada Francois Rynasher Mamarimbing dan GuruInovatif.id yang sudah memicu refleksi ini lewat artikelnya. Semoga semakin banyak guru yang tidak hanya membaca, tapi juga bergerak dan membuat perubahan nyata di sekolah masing-masing.
Muhammad Hafiz Ansyari — Guru yang terus belajar, pembelajar yang terus mengajar. Aktif menulis tentang pendidikan, teknologi belajar, dan pengembangan mindset guru di era digital.
✅ Yuk diskusi bareng! Apa tantangan Anda di awal tahun ajaran ini? Tulis di kolom komentar atau hubungi saya di media sosial.
📩 Follow saya untuk update tulisan lain tentang pendidikan yang lebih praktis dan membumi.
🔗 Bagikan artikel ini jika menurut Anda bermanfaat untuk rekan guru lainnya.
Tinggalkan Komentar