Jakarta — Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU). Penghargaan tersebut diserahkan di Istana Negara pada Senin, 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional.
Penganugerahan ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Gus Dur menjadi salah satu dari 10 tokoh bangsa yang mendapat penghargaan atas jasa luar biasa dalam memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Asal Usul dan Keluarga Gus Dur
Gus Dur lahir dari keluarga besar ulama dan pendiri NU. Ia merupakan putra K.H. Wahid Hasyim dan cucu dari K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dari garis ibunya, ia juga cucu K.H. Bisri Sansuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
Latar belakang keluarga yang kental dengan nilai keislaman dan keilmuan membentuk kepribadian Gus Dur sebagai cendekiawan berwawasan luas dan berpikiran terbuka. Ia tumbuh di lingkungan pesantren yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai kemanusiaan.
Perjalanan Pendidikan Gus Dur
- Pada usia 5 tahun, Gus Dur sudah mampu membaca Al-Qur’an berkat bimbingan langsung dari kakeknya, K.H. Hasyim Asy’ari.
- Menempuh pendidikan dasar di Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) sambil mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
- Melanjutkan studi di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang selama dua tahun, lalu pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Sejak muda, Gus Dur dikenal haus ilmu. Ia gemar membaca karya sastra dan pemikiran dunia seperti Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin. Pada usia 22 tahun, ia menunaikan ibadah haji dan memperluas studinya ke luar negeri.
Studi di Luar Negeri
Tahun 1964, Gus Dur belajar di Al-Azhar University, Kairo pada Fakultas Syariah. Dua tahun kemudian, ia melanjutkan ke Universitas Baghdad, Irak, mengambil Jurusan Sastra Arab di Fakultas Adab hingga tahun 1970. Ia sempat berencana melanjutkan studi ke Leiden, Belanda, namun urung karena kendala administratif.
Selain itu, Gus Dur juga sempat berkelana ke Jerman dan Prancis untuk memperluas pandangan keilmuannya sebelum kembali ke Indonesia pada 1971.
Peran Intelektual dan Organisasi
Setelah kembali ke tanah air, Gus Dur bergabung dengan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), tempat berkumpulnya intelektual Muslim progresif. Di sana, ia aktif menulis di majalah Prisma dan berkeliling pesantren untuk berdialog dengan masyarakat.
Ia juga mengajar di Pondok Pesantren Tambakberas dan di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam. Gus Dur mengajarkan mata kuliah pedagogi, syariat Islam, dan misiologi.
Aktivitas di Nahdlatul Ulama dan Dunia Politik
Pada tahun 1984, Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dan menjabat selama tiga periode berturut-turut. Di bawah kepemimpinannya, NU kembali ke Khittah 1926, memperkuat peran sosial-keagamaan tanpa terlibat langsung dalam politik praktis.
Karier politik Gus Dur mencapai puncak pada tahun 1999 ketika ia dipercaya menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia. Masa kepemimpinannya dikenal sebagai periode pembaruan demokrasi dan kebebasan berpendapat.
Dengan seluruh perjalanan intelektual dan perjuangannya, Gus Dur pantas disebut sebagai simbol kemanusiaan dan pluralisme Indonesia — tokoh yang menjembatani nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan secara utuh.

Tinggalkan Komentar