Tahun ajaran baru 2025/2026 dimulai dengan berbagai harapan dari orang tua. Dalam artikel “Madrasah di Hati Orang Tua: Pendidikan Bermakna Lahirkan Madrasah Hebat Bermartabat” oleh Dr. A. Umar, MA (Kemenag RI, 8 Juli 2025), dijelaskan bagaimana madrasah hari ini menjadi pilihan utama karena membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga bermartabat.
Salah satu contoh nyata yang saya temui adalah MI Nor Rahman Banjarmasin, madrasah yang sederhana namun konsisten menjaga nilai-nilai akhlak sebagai ruh pendidikan. Di tengah tren sekolah dengan berbagai program unggulan berbasis teknologi, MI Nor Rahman tetap memegang teguh pendidikan akhlak yang membumi.
Di MI Nor Rahman, hari-hari siswa dimulai dengan pembacaan Aqidatul Awam, hafalan bacaan sholat, doa-doa harian, serta sholat Dhuha berjamaah.
Setiap hari Jumat, madrasah ini rutin menggelar Jumat Taqwa, diisi dengan pembacaan Yasin, Burdah, Dalailul Khairat, Ratibul Haddad, hingga Wirdul Latif.
Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, tapi pembiasaan spiritual yang melekat dalam keseharian anak.
Kepala MI Nor Rahman, Zaini, S.Pd.I, M.Pd., menegaskan:
“Kami di Nor Rahman tidak mengejar full day school atau program-program tren. Fokus kami adalah bagaimana anak-anak tumbuh dalam suasana yang akrab dengan akhlak, ibadah, dan adab. Madrasah bukan tempat mengejar gelar, tapi membentuk pribadi.”
Berbeda dengan beberapa madrasah modern yang menerapkan sistem full day school untuk menyesuaikan jadwal orang tua bekerja, MI Nor Rahman tetap menerapkan jadwal belajar reguler pagi hingga siang hari.
Namun, yang menjadi kekuatan utama adalah pembinaan spiritual yang berkesinambungan, bukan hanya memperbanyak jam belajar.
MI Nor Rahman juga aktif melibatkan orang tua dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Menurut Zaini:
“Kami mengajak orang tua terlibat dalam pembentukan karakter anak. Tidak mungkin madrasah sendiri yang membentuk akhlak siswa, harus didukung dari rumah. Karena pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama.”
Dr. A. Umar dalam tulisannya mengingatkan, madrasah masa kini harus mampu memadukan Etik (akhlak), Civic (tanggung jawab sosial), dan Sains (ilmu pengetahuan).
MI Nor Rahman menunjukkan bahwa madrasah tidak perlu fasilitas mewah untuk unggul. Cukup dengan keistiqamahan dalam membina akhlak dan ibadah anak-anak setiap hari.
Tahun ajaran baru ini semoga menjadi momentum bagi madrasah untuk kembali ke ruh utamanya: membangun akhlak dan karakter.
Karena sehebat apapun prestasi akademik, tanpa akhlak yang kuat, anak-anak kita akan rapuh menghadapi tantangan zaman.
Muhammad Hafiz Ansyari — Pemerhati pendidikan Islam, penulis lepas, dan penggerak literasi akhlak di sekolah-sekolah dasar Islam di Kalimantan Selatan.
Tinggalkan Komentar