Banyak orang bertanya, “Kenapa sih kita harus sibuk dakwah, nulis, atau ngajarin orang lain?” Jawabannya sederhana tapi dalam: karena ini perintah Allah dan jalan para Nabi.
Dalam salah satu karyanya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang wali dan ulama besar dari Hadramaut, menulis:
“Ini adalah wasiat yang saya susun karena ingin melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan demi berharap pahala dari orang-orang yang saya ajak ke jalan kebaikan.”
Allah memilih Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi, dan umat beliau sebagai umat terbaik yang:
Ini bukan cuma status kehormatan—tapi juga tugas berat yang harus dijalankan.
Kata Habib Abdullah:
“Hati manusia cenderung pada sesuatu yang baru. Ilmu yang ditulis akan menyebar jauh, bahkan setelah penulisnya wafat. Maka ia akan terus mendapat pahala sebagai pengajar yang menyeru ke jalan Allah.”
Jadi jangan anggap remeh nulis artikel, ngisi web dakwah, atau posting kutipan hadis. Itu bisa jadi sedekah jariyah yang terus mengalir, bahkan setelah kita tiada.
Habib Al-Haddad juga sangat jujur. Beliau bilang:
“Saya tidak merasa niat saya ini sepenuhnya bersih. Saya tahu masih ada hawa nafsu dan keinginan dunia dalam diri saya.”
Tapi justru karena itu, kita tetap harus berusaha berdakwah sambil memperbaiki diri. Jangan nunggu sempurna dulu untuk menyebarkan kebaikan.
Rasulullah ﷺ memperingatkan:
“Akan ada orang yang diperintahkan masuk neraka, karena dulu dia menyuruh orang berbuat baik tapi dia sendiri tidak melakukannya.”
Jadi, nasihati orang lain sambil terus menasihati diri sendiri. Ucapkan “wa ‘alaika” – “dan kamu juga harus melakukannya” – kepada diri sendiri sebelum ke orang lain.
“Risalatul Mu’awanah wal Muzhaharah wal Mu’azharah”
Risalah saling tolong-menolong dalam menempuh jalan akhirat.
Sumber:

Cek Terjemah kitab Risalatul muawanah – Kitab Risalatul muawwanah – Hard cover dengan harga Rp60.000. Dapatkan di Shopee sekarang! https://s.shopee.co.id/gCrF6uicS?share_channel_code=1
Tinggalkan Komentar