Sebagai guru, saya meyakini bahwa setiap madrasah memiliki potensi untuk berkembang. Prestasi tidak selalu harus diukur dari piala, tetapi ketika hasil dari berbagai lomba dan kompetisi terus menurun dari tahun ke tahun, tentu perlu ada ruang untuk refleksi bersama.
Beberapa tahun terakhir, madrasah kami rutin mengikuti lomba yang diselenggarakan Kementerian Agama. Hasilnya belum menggembirakan. Bahkan cenderung stagnan, lalu menurun. Sebagai bagian dari madrasah, saya dan rekan-rekan guru berusaha menerima keadaan ini dengan lapang dada, sambil berharap ada evaluasi dan arah pembinaan yang lebih jelas ke depan.
Kami memahami bahwa tidak setiap lomba harus menghasilkan juara. Namun, ketika hasil yang sama terulang tanpa perubahan pendekatan, muncul pertanyaan dalam diri kami: apa yang bisa diperbaiki bersama?
Sebagai guru, kami menunggu arahan, diskusi, atau sekadar ajakan untuk duduk bersama mengevaluasi. Sayangnya, ruang refleksi itu belum terasa kuat. Aktivitas berjalan seperti biasa, seolah penurunan prestasi adalah hal yang wajar dan tidak mendesak untuk disikapi.
Ada masa-masa tertentu di mana aktivitas madrasah terasa sangat hidup. Biasanya ketika mendekati penilaian kinerja atau evaluasi formal. Pada saat itu, koordinasi menjadi lebih intens dan keterlibatan guru sangat dibutuhkan.
Namun setelah proses penilaian selesai, suasana kembali seperti semula. Sebagai guru, kami berharap semangat kebersamaan dan pembinaan itu bisa hadir secara konsisten, tidak hanya pada momen tertentu.
Setiap lomba selalu melibatkan kerja ekstra. Guru mendampingi, melatih, dan menyemangati siswa dengan segala keterbatasan waktu dan sarana. Dalam proses itu, apresiasi sederhana dari pimpinan sebenarnya sangat berarti.
Bukan soal materi, tetapi pengakuan atas usaha. Ketika apresiasi jarang terasa, semangat perlahan bisa menurun. Kami percaya bahwa penguatan moral adalah bagian penting dari kepemimpinan pendidikan.
Kami melihat kepala madrasah aktif dalam berbagai kegiatan di luar, baik di lingkungan organisasi profesi maupun instansi. Hal ini tentu positif dan menunjukkan keterlibatan dalam dunia pendidikan yang lebih luas.
Namun sebagai guru di madrasah, kami berharap energi dan perhatian yang sama juga dirasakan di dalam. Pembinaan internal, penguatan prestasi, dan perhatian pada kebutuhan guru adalah hal yang sangat kami nantikan.
Dalam pengelolaan madrasah, terutama terkait anggaran, kami memahami bahwa keputusan tidak selalu mudah. Namun, sebagai bawahan, terkadang kami merasakan adanya perbedaan perlakuan antara program tertentu dan kebutuhan langsung guru.
Harapan kami sederhana: kejelasan, keadilan, dan tindak lanjut nyata, agar tidak muncul kebingungan atau rasa ragu dalam bekerja.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini adalah refleksi seorang guru yang ingin melihat madrasahnya tumbuh. Kami percaya bahwa kepemimpinan yang terbuka terhadap masukan akan membawa perubahan yang lebih baik.
Prestasi bisa dibangun kembali. Semangat bisa ditumbuhkan lagi. Asalkan ada kemauan untuk mendengar, mengevaluasi, dan melangkah bersama.
Madrasah adalah rumah bersama. Ketika prestasi menurun, itu bukan beban satu pihak, tetapi tanggung jawab kolektif. Namun, arah dan irama tetap ditentukan oleh pemimpin.
Sebagai guru, kami berharap kepemimpinan madrasah ke depan semakin hadir, konsisten, dan berpihak pada penguatan mutu. Bukan demi penilaian semata, tetapi demi masa depan madrasah itu sendiri.
Tinggalkan Komentar