Penulis: Muhammad Hafiz Ansyari
Tanggapan terhadap artikel Kompasiana karya Akbar Pitopang: “Kasus Siswa SMA Merokok: Orangtua Tak Sinkron dalam Mendidik” (Kompasiana.com, 15 Oktober 2025)
👉 Baca artikel aslinya di sini
Kasus siswa SMA yang merokok dan kemudian membuat Kepala Sekolah dilaporkan ke polisi memang seperti ironi di tengah dunia pendidikan kita. Di satu sisi, guru dan kepala sekolah dituntut untuk menanamkan disiplin, tapi di sisi lain, tindakan tegas mereka malah dianggap melanggar hukum.
Saya sepakat dengan tulisan Akbar Pitopang bahwa akar persoalan ini bukan sekadar pada tindakan guru, tapi pada ketidaksinkronan pola asuh antara rumah dan sekolah. Guru ditekan dari dua arah: dari atas oleh aturan, dari bawah oleh ekspektasi orang tua.
Padahal, kalau dipikir jernih — teguran bukanlah kekerasan, tapi bentuk kasih sayang dalam mendidik.
Guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga membentuk karakter.
Namun kini, mereka harus berpikir seribu kali sebelum menegur anak.
Satu gerakan kecil bisa direkam, diviralkan, lalu diadili opini publik.
Kita lupa bahwa guru bukan robot. Mereka pun punya emosi, punya beban moral, dan punya tanggung jawab besar di pundaknya. Ketika mereka menegur siswa yang merokok, tujuannya bukan mempermalukan, melainkan menjaga masa depan anak agar tidak tersesat lebih jauh.
Tapi kini, realitasnya pahit: ketegasan dianggap kekerasan, dan pembinaan disalahartikan sebagai pelanggaran.
Tulisan Akbar benar: hubungan antara sekolah dan orang tua kini seperti dinding yang terpisah.
Padahal, keduanya punya tujuan sama — membentuk anak yang beradab dan bertanggung jawab.
Terlalu sering kita melihat orang tua membela anak tanpa mencari tahu duduk persoalannya.
Padahal, cinta sejati bukan membela kesalahan, tapi membantu anak belajar dari kesalahannya.
Kalau setiap kali anak salah lalu dibela mati-matian, maka kita sedang menumbuhkan generasi yang anti kritik dan tidak siap menghadapi kehidupan nyata.
Guru tidak butuh dipuja.
Mereka hanya ingin dihormati dan diberi ruang untuk menjalankan tugasnya tanpa takut dikriminalisasi.
Jika setiap teguran dilaporkan, bagaimana guru bisa mendidik dengan tegas?
Jika setiap upaya pembinaan disalahpahami, siapa yang berani menegakkan disiplin?
Ingat, bangsa besar tidak lahir dari anak-anak manja yang tidak mau ditegur.
Bangsa besar lahir dari generasi yang tahu menghormati, berani belajar dari kesalahan, dan mampu memperbaiki diri.
Tulisan Akbar Pitopang adalah pengingat keras tapi penting bagi kita semua: pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tapi juga rumah.
Ketika guru dan orang tua berjalan beriringan, anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat.
Tapi jika hubungan itu retak karena rasa curiga, maka yang hancur bukan hanya wibawa guru, tapi juga masa depan anak.
Mari dukung guru yang tegas, bukan mempersulit mereka.
Karena tanpa guru yang berani menegur, pendidikan akan kehilangan arah, dan bangsa akan kehilangan jiwanya.
Sumber:
Akbar Pitopang, Kasus Siswa SMA Merokok: Orangtua Tak Sinkron dalam Mendidik, Kompasiana.com, 15 Oktober 2025.
👉 https://www.kompasiana.com/akbarisation/68ef9aa634777c4d833247c3/siswa-sman-1-cimarga-banten-merokok-orangtua-tak-sinkron-dalam-mendidik-anak?page=all
Tinggalkan Komentar