Penulis: Muhammad Hafiz Ansyari
Tanggapan terhadap artikel Kompasiana karya Diantika IE: “Ketika Guru Menangis Menahan Marah: Belajar Menjadi Manusia di Ruang Kelas” (Kompasiana.com, 15 Oktober 2025)
👉 Baca artikel aslinya di sini
Ketika membaca tulisan Bu Diantika IE di Kompasiana tentang guru yang menangis menahan amarah, saya terdiam lama. Tulisan itu seperti membuka sisi lain dari dunia pendidikan yang jarang dibicarakan: bahwa guru juga manusia. Mereka punya hati, perasaan, dan batas kesabaran.
Sering kali publik hanya menyorot kesalahan guru—saat ada tindakan keras, teguran, atau insiden di kelas—tanpa tahu betapa berat perjuangan mereka di balik pintu ruang guru. Tulisan itu mengingatkan kita bahwa mendidik bukan hanya soal memberi pelajaran, tapi juga soal menahan diri agar tidak menyakiti.
Sebagai pembaca, saya merasa tulisan tersebut bukan sekadar curahan hati, tapi tamparan lembut bagi sistem pendidikan kita. Guru seharusnya mendapat dukungan emosional, bukan hanya beban administrasi dan target nilai. Bagaimana mungkin kita berharap anak tumbuh dengan empati kalau gurunya kelelahan secara batin?
Yang sering luput dari perhatian adalah bahwa guru juga butuh tempat untuk menenangkan diri. Banyak dari mereka tidak punya ruang aman untuk curhat, menangis, atau sekadar diam tanpa takut dinilai “tidak profesional”.
Padahal, profesionalitas bukan berarti menekan emosi sampai kering. Justru sebaliknya: guru yang mengenal emosinya adalah guru yang bisa mengajarkan empati dengan tulus.
Mungkin sudah saatnya sekolah menyediakan pendamping psikologis atau ruang refleksi bagi guru, seperti halnya Jepang punya sistem yogo teacher dan konselor di sekolah. Karena kalau guru kelelahan mental, semangat mendidik pun ikut terkikis.
Tulisan Bu Diantika juga memperlihatkan betapa kompleksnya dunia pendidikan di lapangan. Ada siswa yang keras kepala, ada ancaman dari luar sekolah, bahkan ada momen di mana guru harus berpura-pura kuat padahal hatinya sudah remuk.
Namun justru di situlah keindahan profesi ini — karena setiap tetes air mata guru adalah bukti cinta yang nyata untuk murid-muridnya.
Guru bukan malaikat. Mereka tidak sempurna. Tapi mereka selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin, demi anak-anak bangsa yang kelak menggantikan mereka.
Dan kita — orang tua, masyarakat, bahkan pemerintah — seharusnya tidak hanya menuntut, tapi juga belajar mendengar. Karena di balik setiap tangisan guru, ada pesan besar: pendidikan tidak bisa berjalan hanya dengan aturan, tapi harus dengan hati.
Terima kasih kepada Bu Diantika IE atas tulisannya yang jujur dan menyentuh. Semoga kisah-kisah seperti ini makin banyak dibagikan, agar publik paham bahwa pendidikan sejati tidak hanya terjadi di ruang kelas — tapi juga di hati para guru yang terus belajar menjadi manusia setiap hari.
Sumber:
Diantika IE, Ketika Guru Menangis Menahan Marah: Belajar Menjadi Manusia di Ruang Kelas, Kompasiana.com, 15 Oktober 2025.
👉 https://www.kompasiana.com/diantikaie/68ef2d74ed64154b8456f9e6/ketika-guru-menangis-menahan-marah-belajar-menjadi-manusia-di-ruang-kelas?page=all
Tinggalkan Komentar