Sayyidul Istighfar merupakan salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan oleh umat Islam. Rasulullah ﷺ mengajarkan bacaan ini sebagai bentuk pengakuan seorang hamba atas kebesaran Allah, nikmat yang diterimanya, serta dosa yang telah diperbuat.
Sayyidul Istighfar memiliki makna yang sangat dalam. Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa hanya Allah yang menjadi Tuhan, bahwa manusia adalah hamba-Nya, sekaligus permohonan ampun atas segala kesalahan.
Karena kandungan maknanya yang lengkap, Sayyidul Istighfar dikenal sebagai penghulu istighfar atau istighfar yang paling utama.
Berikut bacaan Sayyidul Istighfar sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.
Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta, khalaqtanî wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.
“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Kata sayyid berarti pemimpin atau penghulu, sedangkan istighfar berarti memohon ampun kepada Allah.
Sayyidul Istighfar memiliki kandungan yang lebih lengkap daripada sekadar mengucapkan permohonan ampun. Dalam bacaan ini, seorang hamba terlebih dahulu mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya dan satu-satunya yang berhak disembah.
Kemudian ia mengakui bahwa dirinya adalah ciptaan Allah dan seorang hamba. Ia juga mengakui berbagai nikmat yang telah diberikan Allah.
Setelah itu, seorang hamba mengakui dosa dan kesalahannya. Pada bagian akhir, ia memohon agar Allah memberikan ampunan.
Karena itu, Sayyidul Istighfar mengajarkan tauhid, pengakuan terhadap nikmat Allah, kerendahan hati, pengakuan dosa, dan permohonan ampun dalam satu doa.
Keutamaan Sayyidul Istighfar dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ.
Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah ﷺ bersabda mengenai orang yang membaca Sayyidul Istighfar pada pagi hari dengan penuh keyakinan, kemudian meninggal pada hari tersebut. Ia mendapatkan kabar gembira sebagai penghuni surga.
Hal yang sama berlaku bagi orang yang membacanya pada sore hari dengan penuh keyakinan, kemudian meninggal pada malam tersebut.
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan Sayyidul Istighfar.
Namun, membaca doa tersebut tentu bukan sekadar mengucapkan lafaznya. Seorang Muslim perlu memahami maknanya dan berusaha mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sayyidul Istighfar dianjurkan untuk dibaca pada pagi dan sore hari.
Amalan ini dapat dimasukkan ke dalam rutinitas dzikir harian. Misalnya, setelah melaksanakan salat Subuh, seseorang membaca Sayyidul Istighfar sebagai bagian dari dzikir pagi.
Pada sore hari, bacaan tersebut dapat kembali diamalkan sebagai bagian dari dzikir petang.
Yang terpenting adalah menjaga keistiqamahan dan membaca dengan memahami maknanya.
Salah satu pelajaran penting dari Sayyidul Istighfar adalah kesadaran bahwa manusia merupakan seorang hamba.
Manusia memiliki banyak keterbatasan. Kita menerima begitu banyak nikmat dari Allah, tetapi pada saat yang sama kita juga tidak luput dari kesalahan.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya merasa dirinya selalu benar dan tidak pernah melakukan dosa.
Sayyidul Istighfar mengajarkan kita untuk berani mengakui kesalahan.
Kalimat “wa abû’u bidzanbî” berarti kita mengakui dosa yang telah diperbuat.
Pengakuan tersebut bukan untuk membuat seseorang berputus asa. Sebaliknya, pengakuan dosa menjadi langkah untuk kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.
Anak-anak di madrasah juga perlu diperkenalkan dengan Sayyidul Istighfar sejak dini.
Menghafal doa tentu merupakan hal yang baik. Namun, akan lebih baik jika peserta didik juga memahami arti dari doa yang mereka baca.
Ketika membaca:
“Allâhumma anta rabbî”
kita mengingat bahwa Allah adalah Tuhan kita.
Ketika membaca:
“wa anâ ‘abduka”
kita mengingat bahwa kita adalah hamba Allah.
Ketika membaca:
“abû’u laka bini‘matika ‘alayya”
kita mengingat berbagai nikmat yang telah Allah berikan.
Dan ketika membaca:
“wa abû’u bidzanbî”
kita mengingat bahwa sebagai manusia kita tidak luput dari kesalahan.
Dengan memahami makna tersebut, membaca Sayyidul Istighfar tidak hanya menjadi aktivitas menghafal. Doa tersebut dapat menjadi sarana untuk membentuk sikap rendah hati dan selalu mengingat Allah.
Membiasakan anak membaca istighfar merupakan bagian dari pendidikan keagamaan yang penting.
Orang tua dapat mengajak anak membaca Sayyidul Istighfar setelah salat atau pada waktu pagi dan sore. Guru juga dapat membimbing peserta didik untuk menghafal sekaligus memahami arti bacaannya.
Pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dapat membantu anak mengenal doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Tidak perlu menunggu anak melakukan kesalahan besar untuk mengajarkan istighfar.
Istighfar sebaiknya menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim setiap hari.
Sayyidul Istighfar bukan sekadar bacaan untuk memohon ampun. Di dalamnya terdapat pengakuan terhadap keesaan Allah, pengakuan sebagai hamba, rasa syukur atas nikmat, pengakuan terhadap dosa, serta permohonan ampun kepada Allah.
Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk membaca Sayyidul Istighfar pada pagi dan sore hari. Keutamaannya juga disebutkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari.
Mari kita jadikan Sayyidul Istighfar sebagai salah satu amalan harian. Ajarkan kepada anak-anak, biasakan membacanya, dan yang tidak kalah penting, pahami maknanya.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, menjaga hati kita agar selalu dekat kepada-Nya, serta memberikan kita husnul khatimah.
اللهم اغفر لنا ذنوبنا، وتب علينا، إنك أنت التواب الرحيم.
Wallahu a’lam.
Referensi:
NU Online, “Inilah Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar Menurut Rasulullah”, 15 April 2016. Baca artikel NU Online
Tinggalkan Komentar