Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari niat baik. Tidak ada yang menolak anak-anak makan dengan layak di sekolah. Anak yang kenyang memang lebih siap belajar. Masalahnya, niat baik itu berubah jadi luka ketika dananya justru diambil dari anggaran pendidikan, sementara jutaan guru masih hidup di bawah garis layak.
Fakta di lapangan jelas. Ratusan ribu guru honorer digaji di bawah upah minimum. Ada yang puluhan tahun mengajar tapi masih harus jadi buruh sampingan. Ada yang gajinya bahkan tidak cukup untuk bayar listrik. Di saat yang sama, pemerintah mengalokasikan sepertiga anggaran pendidikan untuk MBG dan mengangkat puluhan ribu pegawai dapur menjadi PPPK lebih cepat dari guru yang sudah mengabdi lama.
Di sinilah rasa keadilan publik diuji.
Yang perlu ditegaskan sejak awal: masalahnya bukan pada MBG, melainkan dari mana uangnya diambil dan siapa yang diprioritaskan.
Anggaran pendidikan seharusnya dipakai untuk:
Ketika dana itu dialihkan ke program makan, dampaknya langsung terasa. Gaji guru telat. Pagu daerah menyusut. Guru honorer makin ditekan. Ini bukan asumsi, tapi pengakuan para guru sendiri di berbagai daerah.
Ironisnya, negara justru menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah mampu menyejahterakan pekerja, terbukti dengan cepatnya pengangkatan pegawai dapur MBG menjadi PPPK. Kalau itu bisa dilakukan dalam hitungan bulan, mengapa guru harus menunggu puluhan tahun?
Tidak ada pendidikan tanpa guru. Sekuat apa pun program bantuan, tidak akan bermakna jika yang mengajar hidup dalam kecemasan ekonomi.
Anak-anak boleh mendapat satu porsi makan hari ini, tapi mereka butuh guru yang fokus, sehat, dan dihargai setiap hari. Guru yang kelelahan karena harus kerja sampingan, atau stres karena gaji dipotong, tidak bisa maksimal mendidik.
Kalau negara serius ingin mencerdaskan bangsa, maka menyejahterakan guru bukan pilihan, tapi kewajiban.
Solusinya bukan menghentikan MBG, tapi memperbaiki desain kebijakan. Ada beberapa langkah yang masuk akal dan adil:
Dengan langkah ini, MBG tetap berjalan, anak-anak tetap makan, dan guru tidak dikorbankan.
Banyak pihak sudah menghitung: dana MBG sebenarnya cukup untuk memperbaiki gaji jutaan guru honorer sekaligus. Artinya, ini bukan soal negara tidak mampu, tapi soal kemauan politik dan skala prioritas.
Kalau pemerintah bisa bergerak cepat untuk program unggulan, seharusnya bisa lebih cepat lagi untuk orang-orang yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajar dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk hidup layak.
MBG dan kesejahteraan guru tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama jika pemerintah mau mendengar suara guru dan berani menata ulang anggaran secara adil.
Jangan sampai negara memberi makan anak-anak hari ini, tapi mengorbankan masa depan pendidikan mereka karena gurunya dibiarkan terlantar.
Karena pada akhirnya, makanan habis dalam beberapa jam, tapi pendidikan menentukan hidup seseorang seumur hidup.
Tinggalkan Komentar