BANJARMASIN – Warga Banjarmasin belakangan menghadapi kendala distribusi air PAM. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah persediaan air sedang habis?
Jawabannya bukan karena air baku habis.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya kadar garam atau klorida pada air baku di Intake Sungai Bilu. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi proses pengolahan air sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dibagikan PAM Bandarmasih melalui Instagram @pambandarmasih pada Kamis (13/08/26), kadar klorida di Intake Sei Bilu masih sangat tinggi pada pemantauan pukul 12.00 hingga 16.00 WITA.
Pada pukul 12.00, kadar klorida tercatat 3.041 mg/L. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 3.810 mg/L pada pukul 13.00 dan mencapai titik tertinggi 3.900 mg/L pada pukul 14.00.
Setelah itu, kadar klorida mulai menurun. Pada pukul 15.00 tercatat 2.704 mg/L, kemudian kembali turun menjadi 2.106 mg/L pada pukul 16.00.
Walaupun mengalami penurunan, angka tersebut masih jauh berada di atas batas 300 mg/L yang tercantum dalam grafik pemantauan PAM Bandarmasih.
Kondisi ini berkaitan dengan keadaan air baku yang digunakan untuk pengolahan air bersih. Saat musim kemarau, debit air sungai dapat menurun. Pada saat yang sama, masuknya air laut atau intrusi air laut dapat memengaruhi kadar garam pada sumber air baku.
PAM Bandarmasih sebelumnya telah menjelaskan bahwa monitoring intrusi air laut dilakukan di titik pengambilan air baku, termasuk Intake Sungai Bilu. Kondisi ini menjadi perhatian khusus ketika memasuki musim kemarau.
Dengan demikian, ketika air baku memiliki kadar garam yang terlalu tinggi, proses pengolahan menjadi lebih sulit. PAM harus melakukan penanganan dan penyesuaian agar air yang nantinya didistribusikan kepada pelanggan tetap memenuhi ketentuan kualitas air.
PAM Bandarmasih sendiri menyatakan bahwa proses pengolahan air dilakukan melalui sejumlah tahapan, termasuk koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi. Pengujian kualitas juga dilakukan melalui laboratorium yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 17025.
Bagi warga Banjarmasin, gangguan atau berkurangnya distribusi air tentu membuat aktivitas sehari-hari ikut terganggu. Air sangat dibutuhkan untuk memasak, mandi, mencuci, beribadah, dan berbagai keperluan rumah tangga.
Namun, kondisi ini juga perlu dipahami dengan kepala dingin.
Persoalan yang terjadi bukan semata-mata karena PAM kehabisan air. Ada persoalan pada kualitas air baku, khususnya kadar garam yang meningkat akibat kondisi musim kemarau dan pengaruh air laut.
Karena itu, masyarakat diharapkan tetap bersabar sembari menunggu kondisi sumber air membaik.
Musim kemarau mengajarkan kita bahwa air merupakan nikmat yang sangat berharga. Ketika air mudah didapat, terkadang kita lupa betapa pentingnya menjaga dan mensyukurinya.
Maka, selain berharap pelayanan air segera kembali normal, mari kita bersama-sama menjaga penggunaan air di rumah.
Gunakan air secukupnya. Jangan membuang-buang air. Tampung air ketika tersedia untuk kebutuhan yang benar-benar penting.
Dan yang tidak kalah penting, mari memperbanyak bersyukur, bersabar, beristigfar, serta berdoa agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat.
Semoga kemarau segera berlalu.
Semoga hujan segera turun di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan.
Semoga sumber-sumber air kembali mendapatkan pasokan yang cukup sehingga pengolahan dan distribusi air kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik.
Air adalah nikmat. Saat tersedia, mari kita syukuri. Saat berkurang, mari kita bersabar dan menggunakannya dengan bijak.
Tinggalkan Komentar