Oleh: Muhammad Hafiz Ansyari
Artikel Kompas.com karya Rintan Puspita Sari dan Ayunda Pininta Kasih tentang literasi digital membuka mata kita: generasi Alpha memang harus dibekali kemampuan menjelajah dunia siber dengan aman dan bijak. Saya sepakat, anak-anak butuh tahu cara memilah informasi, melindungi data pribadi, dan menghindari jebakan hoaks.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: literasi digital tanpa literasi emosional ibarat pedang tanpa sarung. Tajam, tapi mudah melukai.
Anak-anak kita kini tidak sekadar “menggunakan” gawai, mereka hidup di dalamnya. Dunia digital adalah ruang sosial baru. Di sana ada interaksi, ada konflik, ada tekanan sosial yang nyata.
Kalau hanya dibekali cara cek fakta atau jaga password, mereka mungkin pintar secara teknis, tapi tetap rapuh secara mental.
Bullying di media sosial, perbandingan hidup dengan influencer, atau rasa cemas karena takut tertinggal tren (FOMO) seringkali lebih berbahaya daripada sekadar hoaks. Inilah mengapa literasi emosional harus jalan beriringan dengan literasi digital. Anak perlu diajari:
Program Jagat Literasi yang diangkat Kompas.com patut diapresiasi. Tapi, peran guru dan orang tua tetap kunci utama. Literasi digital sebaiknya tidak berhenti di ruang kelas. Orang tua perlu jadi role model: bagaimana mereka sendiri menggunakan gawai, membatasi waktu layar, hingga cara merespons berita bohong.
Anak belajar paling kuat bukan dari modul atau seminar, tapi dari teladan.
Tulisan Rintan Puspita Sari dan Ayunda Pininta Kasih menekankan urgensi literasi digital, dan itu benar adanya. Namun, saya ingin menambahkan bahwa literasi emosional adalah fondasi yang tak boleh ditinggalkan.
Anak yang melek digital tapi tidak kuat secara mental akan mudah goyah. Sebaliknya, anak yang cerdas secara emosional akan lebih bijak menggunakan teknologi, sekaligus lebih tangguh menghadapi tekanan dunia maya.
Karena pada akhirnya, dunia digital bukan hanya soal keamanan data, tapi juga soal kesehatan jiwa.
Tinggalkan Komentar