Tren mahasiswa menulis dengan AI tak terelakkan. Simak wawasan Dr. Yusuf Amrozi dan 7 langkah praktis bagi kampus agar pemanfaatan AI jadi alat bantu — bukan pengganti kemampuan berpikir kritis.
Perubahan kebiasaan menulis mahasiswa di era AI kini nyata. ChatGPT, Gemini, Copilot—semua itu bukan sekadar alat bantu, melainkan bagian dari ekosistem literasi digital mahasiswa. Menurut Dr. Yusuf Amrozi (Dosen Sistem Informasi UIN Sunan Ampel), menolak kehadiran AI bukan solusi: tantangannya adalah bagaimana kampus mengarahkan, mendidik, dan mengawasi penggunaan AI agar tetap etis dan produktif.
Risiko utama? Ketergantungan yang melemahkan kemampuan berpikir kritis, argumentasi, dan validasi sumber. Manfaatnya? AI mempercepat riset, membantu sintesis, dan mendorong kreativitas bila digunakan bijak.
Jangan biarkan ruang abu-abu. Kampus perlu panduan tertulis: kapan AI boleh dipakai (ideation, rangkuman), kapan harus diungkapkan (disclosure), dan batas toleransi kemiripan/ similarity. Regulasi juga harus mencantumkan sanksi bila etika dilanggar.
Bukan hanya jurusan IT — semua program studi perlu materi literasi AI: cara mem-prompt, menilai kualitas keluaran, verifikasi fakta, serta teknik referensi yang benar. Dr. Yusuf menyebutnya “Literasi AI” — bukan sekadar penggunaan, tapi validasi dan etika.
Untuk tugas penting (tesis, makalah besar), dosen bisa melakukan sesi verifikasi: minta mahasiswa menjelaskan sumber, metodologi, dan argumen secara lisan. Ini mengurangi peluang mahasiswa menyerahkan produk AI tanpa paham isinya.
Perangkat lunak plagiarism/AI-detection bisa jadi alat bantu, bukan satu-satunya bukti. Padukan hasil deteksi dengan pengecekan rujukan dan wawancara akademik agar penilaian adil.
Buat tugas yang menuntut proses: log penelitian, jurnal proses mingguan, presentasi, dan tugas lapangan. AI dapat bantu teks akhir, tapi proses ini menuntut keterlibatan nyata mahasiswa.
Kemampuan inferensi, sintesis, dan analisis kritis harus jadi prioritas. Kampus dapat menanamkannya lewat tugas terbimbing, peer review, dan debat akademik — keterampilan yang tak mudah digantikan AI.
Regulasi efektif bila semua pemangku kepentingan terlibat: pimpinan akademik buat kebijakan, dosen mengawasi pelaksanaan, mahasiswa diajak berdiskusi, dan orang tua/dunia industri diberi pemahaman tentang tujuan penggunaan AI.
Dr. Yusuf mengingatkan: jika pendidik “lepas tangan”, mahasiswa akan kehilangan kemampuan berpikir kritis. Namun bila diasuh dengan benar, AI justru bisa memperkaya kompetensi: mempercepat riset, mengasah kemampuan memvalidasi, dan melatih mahasiswa menjadi content creator yang etis.
Bila kampus bergerak proaktif — menyusun kebijakan, mengajarkan literasi AI, dan menilai proses akademik — kehadiran AI tidak jadi ancaman melainkan peluang untuk mencetak lulusan yang adaptif, produktif, dan tetap bermoral.
Tinggalkan Komentar