Banjarmasin | Memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya tentang mengingat sebuah peristiwa sejarah. Lebih dari itu, momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ, membaca sirah beliau, mencintai beliau, dan berusaha meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam buku Ringkasan Sirah Nabi Muhammad karya Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dijelaskan bahwa mempelajari sirah Nabi memiliki banyak manfaat. Di antaranya agar umat dapat meneladani Rasulullah ﷺ, semakin mencintai beliau, serta mengambil pelajaran dalam masalah akidah, fikih, akhlak, dan kehidupan.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi pintu untuk mengajukan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mengenal Rasulullah ﷺ dan meneladani kehidupan beliau?
Allah memuji akhlak Rasulullah ﷺ dalam Al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
QS. Al-Qalam: 4
Buku Ringkasan Sirah Nabi Muhammad menempatkan pembahasan tentang akhlak mulia Nabi sebagai bagian penting dalam mengenal kehidupan beliau. Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai manusia yang baik, dermawan, dan pemberani.
Akhlak tersebut tidak hanya terlihat ketika Rasulullah ﷺ berhadapan dengan masyarakat. Akhlak mulia juga tampak dalam kehidupan keluarga.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan shalat.
Teladan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.
Kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Membantu keluarga, berbicara dengan baik, menghormati orang lain, menjaga ucapan, dan menunaikan tanggung jawab juga menjadi bagian dari akhlak yang perlu dibiasakan.
Salah satu akhlak menarik yang dibahas dalam buku tersebut adalah keramahan Rasulullah ﷺ.
Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa sejak masuk Islam, Rasulullah ﷺ tidak pernah melarangnya untuk berkunjung. Bahkan ketika melihat Jarir, Rasulullah ﷺ selalu tersenyum kepadanya.
Senyum merupakan bentuk sederhana dari kebaikan.
Di lingkungan keluarga, madrasah, tempat kerja, dan masyarakat, keramahan dapat membuat hubungan menjadi lebih baik. Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ seharusnya juga mendorong kita untuk memperbaiki cara berinteraksi dengan orang lain.
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan dalam perkara yang terlihat sederhana.
Beliau tidak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.
Pelajaran ini sangat penting pada masa sekarang.
Kita hidup di tengah banyak pilihan makanan dan kemudahan mendapatkan sesuatu. Namun, kemudahan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang mudah mengeluh atau merendahkan pemberian orang lain.
Meneladani Rasulullah ﷺ berarti belajar menghargai nikmat dan menjaga lisan.
Kehidupan Rasulullah ﷺ juga menunjukkan kesederhanaan.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa keluarga Muhammad ﷺ pernah melewati satu bulan tanpa memasak karena tidak memiliki bahan makanan selain kurma dan air. Bahkan tempat tidur Rasulullah ﷺ digambarkan sederhana, terbuat dari kulit yang diisi serabut.
Kesederhanaan Rasulullah ﷺ tidak berarti beliau tidak memiliki kemuliaan. Justru dari kesederhanaan itu kita dapat belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta dan kemewahan.
Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi gaya hidup kita.
Apakah kita sudah menggunakan nikmat Allah dengan baik?
Apakah kita masih mudah mengeluh?
Apakah kita terlalu mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan?
Rasulullah ﷺ juga menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ biasa bergaul dan bercanda bersama mereka. Salah satu bentuknya adalah ketika beliau menyapa seorang anak kecil dengan menanyakan burung kecil yang dipeliharanya.
Teladan ini sangat penting bagi orang tua dan pendidik.
Anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang baik. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui nasihat. Sikap pendidik juga menjadi bagian dari pembelajaran.
Karena itu, memperingati Maulid Nabi di madrasah juga dapat menjadi momentum untuk menguatkan pendidikan akhlak dan kasih sayang kepada peserta didik.
Salah satu teladan yang sangat kuat adalah kemampuan Rasulullah ﷺ mengendalikan diri.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul perempuan maupun pelayan dengan tangannya. Beliau juga tidak membalas keburukan yang menimpa dirinya secara pribadi.
Teladan ini mengajarkan pentingnya pengendalian diri.
Tidak semua persoalan harus dibalas dengan kemarahan. Tidak semua perkataan harus dijawab dengan perkataan yang lebih keras.
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan ucapan. Cinta perlu terlihat dalam cara kita mengendalikan emosi, memperlakukan keluarga, mendidik anak, dan menghadapi perbedaan.
Selain akhlak, buku tersebut juga membahas semangat ibadah Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ dikenal sangat bersungguh-sungguh dalam shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdiri lama dalam shalat malam hingga kedua kaki beliau mengalami pecah-pecah. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur.
Ini menjadi pelajaran penting.
Ibadah Rasulullah ﷺ bukan sekadar rutinitas. Ibadah lahir dari rasa syukur kepada Allah.
Karena itu, momentum Maulid Nabi seharusnya juga mendorong kita memperbaiki kualitas ibadah.
Rasulullah ﷺ juga memiliki hati yang lembut.
Ketika menyaksikan pemakaman putrinya, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melihat kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Ketika Al-Qur’an dibacakan kepadanya, Rasulullah ﷺ juga menangis.
Kelembutan hati bukan tanda kelemahan.
Kelembutan justru dapat berjalan bersama keberanian, ketegasan, dan kekuatan iman. Rasulullah ﷺ memberikan contoh bagaimana seorang manusia dapat memiliki hati yang penuh kasih tanpa kehilangan keteguhan dalam menjalankan kebenaran.
Buku Ringkasan Sirah Nabi Muhammad juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki hak yang harus diperhatikan oleh umatnya. Salah satu hak tersebut adalah menaati beliau. Perintah Rasulullah ﷺ dikerjakan dan larangannya ditinggalkan.
Maka, ukuran cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada banyaknya ucapan cinta.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ perlu diwujudkan dengan mengikuti petunjuk beliau.
Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana:
Buku ini mengingatkan bahwa sirah Nabi bukan sekadar cerita sejarah. Mempelajarinya bertujuan agar umat semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah ﷺ.
Karena itu, Maulid Nabi sebaiknya menjadi titik awal untuk kembali membaca perjalanan hidup beliau.
Kita mengenal bagaimana Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah pada hari Senin pada bulan Rabiul Awal dan tahun Gajah. Buku tersebut juga menjelaskan bahwa tanggal tepat kelahiran beliau diperselisihkan oleh para ulama.
Perjalanan hidup beliau kemudian berlanjut dari masa kecil sebagai yatim, masa muda, pernikahan, pengangkatan sebagai Nabi dan Rasul, dakwah di Makkah, Isra’ Mi’raj, hijrah ke Madinah, hingga wafatnya Rasulullah ﷺ.
Semua bagian tersebut menyimpan pelajaran.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Namun, kecintaan itu perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Jika Rasulullah ﷺ dikenal sebagai sosok yang ramah, mari kita belajar menjadi pribadi yang ramah.
Jika beliau membantu keluarganya, mari kita belajar membantu keluarga.
Jika beliau tidak mencela makanan, mari kita menjaga lisan.
Jika beliau menyayangi anak-anak, mari kita mendidik mereka dengan kasih sayang.
Jika beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah, mari kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah.
Dan jika beliau mengajarkan umatnya untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mari kita menjadikan sunnah beliau sebagai bagian dari kehidupan.
Pada akhirnya, mengenal Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk mengetahui sejarah beliau. Tujuan yang lebih penting adalah agar kita semakin mencintai, meneladani, dan berharap dapat dikumpulkan bersama beliau di surga. Hal tersebut juga menjadi doa penutup buku Ringkasan Sirah Nabi Muhammad.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Semoga momentum ini tidak berhenti pada sebuah acara, tetapi menjadi awal untuk kembali membaca sirah, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Tinggalkan Komentar