Amalan menulis 113 basmalah di awal bulan Muharram dikenal dalam tradisi pesantren. Simak keutamaan, dasar rujukan, dan tata cara mengamalkannya.
Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bulan ini menjadi pembuka tahun Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia yang disebut asyhurul hurum. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal baik, menjaga diri dari maksiat, dan memulai tahun baru dengan niat yang lebih bersih.
Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, khususnya lingkungan pesantren, terdapat amalan yang cukup dikenal pada awal Muharram. Amalan tersebut ialah menulis lafaz basmalah sebanyak 113 kali. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar batin untuk memohon perlindungan Allah SWT dari berbagai keburukan dan bahaya.
Amalan ini tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menulis biasa. Di dalamnya terdapat nilai zikir, doa, ketenangan hati, dan penguatan keyakinan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya tempat berlindung.
Kemuliaan Muharram dijelaskan dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 36. Allah SWT menegaskan bahwa jumlah bulan dalam satu tahun adalah dua belas bulan. Dari jumlah tersebut, terdapat empat bulan yang dimuliakan.
Empat bulan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan lebih berhati-hati dalam bersikap. Perbuatan maksiat perlu dijauhi, sedangkan amal kebaikan perlu diperbanyak.
Muharram menjadi waktu yang baik untuk memulai langkah baru. Bukan hanya karena ia berada di awal tahun Hijriah, tetapi juga karena bulan ini mengandung pesan perbaikan diri. Seorang Muslim diajak menata niat, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Basmalah adalah kalimat yang sangat agung. Lafaz بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ mengandung makna memulai segala sesuatu dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dalam tradisi sebagian ulama dan pesantren, menulis basmalah sebanyak 113 kali pada awal Muharram diyakini memiliki fadilah sebagai ikhtiar perlindungan. Amalan ini dilakukan dengan penuh adab, niat baik, dan keyakinan bahwa keselamatan hanya datang dari Allah SWT.
Jumlah 113 kali berkaitan dengan tradisi amaliyah yang dinukil dalam sejumlah kitab. Salah satu rujukan yang disebut dalam NU Online Jateng adalah Jauharul Munazhom fi Fadhail Syahrillah Muharram. Di dalamnya dijelaskan bahwa orang yang menulis basmalah pada awal Muharram sebanyak 113 kali diharapkan mendapat perlindungan dari keburukan, baik bagi dirinya maupun keluarganya.
Penting dipahami, amalan ini bukan jimat yang berdiri sendiri. Seorang Muslim tetap wajib meyakini bahwa manfaat dan perlindungan hanya berasal dari Allah SWT. Tulisan basmalah menjadi wasilah doa, zikir, dan ikhtiar rohani.
Amalan ini memiliki beberapa nilai penting.
Pertama, menguatkan ingatan kepada Allah SWT. Saat seseorang menulis basmalah berulang kali, lisannya, hatinya, dan pikirannya diarahkan untuk mengingat Allah.
Kedua, melatih ketenangan batin. Menulis basmalah membutuhkan fokus. Kegiatan ini dapat menjadi ruang muhasabah pada awal tahun Hijriah.
Ketiga, menjadi bentuk doa perlindungan. Basmalah memuat pengakuan bahwa segala urusan dimulai atas nama Allah. Karena itu, menulisnya dengan niat baik menjadi bagian dari permohonan keselamatan.
Keempat, menjaga tradisi keilmuan pesantren. Amalan ini dikenal di kalangan ulama dan santri sebagai bagian dari ikhtiar batin yang tetap perlu dilakukan dengan pemahaman yang benar.
Berikut tata cara yang umum dilakukan dalam tradisi pesantren:
Amalan ini sebaiknya dilakukan dengan hati tenang. Jangan tergesa-gesa. Setiap tulisan basmalah dapat diiringi dengan harapan agar Allah SWT menjaga diri, keluarga, rumah, dan kehidupan dari hal yang buruk.
Dalam mengamalkan tradisi ini, niat menjadi hal utama. Jangan menjadikan tulisan basmalah sebagai benda yang diyakini memiliki kekuatan sendiri. Keyakinan seperti itu perlu dihindari. Seorang Muslim harus tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah sumber keselamatan dan perlindungan.
Amalan ini juga sebaiknya tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban utama. Shalat, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, bekerja dengan jujur, dan menjaga hubungan sosial tetap menjadi bagian penting dari ibadah sehari-hari.
Menulis basmalah 113 kali dapat menjadi pelengkap amaliyah Muharram. Nilainya akan lebih baik jika disertai istighfar, doa, sedekah, puasa sunnah, dan usaha memperbaiki diri.
Awal Muharram memberi ruang bagi umat Islam untuk memulai tahun dengan kesadaran baru. Setiap orang tentu berharap tahun yang akan dijalani penuh keselamatan, kesehatan, keberkahan rezeki, dan perlindungan dari bahaya.
Namun, perlindungan tidak hanya diminta melalui doa. Ia juga perlu diiringi dengan usaha nyata. Menjaga lisan, menjauhi perbuatan zalim, memperkuat ibadah, dan memperbanyak kebaikan merupakan cara penting untuk meraih keberkahan hidup.
Karena itu, amalan menulis 113 basmalah dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ikhtiar. Ia mengajak seseorang memulai tahun Hijriah dengan menyebut nama Allah, merendahkan hati, dan berharap pertolongan-Nya.
Amalan menulis 113 basmalah di awal bulan Muharram merupakan tradisi baik yang dikenal di lingkungan pesantren. Amalan ini berisi nilai zikir, doa, muhasabah, dan permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Muharram sebagai bulan mulia perlu disambut dengan amal yang baik. Menulis basmalah dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menghidupkan awal tahun Hijriah. Namun, keyakinan harus tetap lurus. Perlindungan, keselamatan, dan keberkahan hanya datang dari Allah SWT.
Dengan niat yang benar, adab yang baik, dan pemahaman yang tepat, amalan ini dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah serta mengawali Muharram dengan hati yang lebih tenang.
Sumber referensi:
NU Online Jateng.
Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36.
Tafsir Jalalain.
Jauharul Munazhom fi Fadhail Syahrillah Muharram.
Kanz an-Najah wa as-Surur.
Tag: amalan 113 basmalah, basmalah muharram, amalan awal muharram, keutamaan bulan muharram, 1 muharram, amalan pesantren, fadilah basmalah, tahun baru islam
Tinggalkan Komentar