Oleh : Muhammad Hafiz Ansyari
Pernah nggak, Ayah dan Bunda melihat anak bisa duduk manis lama banget saat pegang handphone, tapi baru lima menit belajar langsung gelisah, mondar-mandir, bahkan tantrum?
Kelihatannya sepele. Tapi sebenarnya, ada proses penting di dalam otak anak yang sedang bekerja. Pertanyaannya, apakah screen time yang berlebihan bisa memengaruhi fokus dan perkembangan belajar anak? Jawabannya: iya, bisa. Yuk kita bahas pelan-pelan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dalam ilmu psikologi perkembangan, ini berkaitan dengan perkembangan kognitif, yaitu kemampuan otak untuk berpikir, memahami, mengingat, dan mengendalikan diri.
Salah satu bagian otak yang sangat berperan adalah prefrontal cortex. Anggap saja bagian ini seperti dirigen orkestra. Tugasnya mengatur:
Masalahnya, bagian otak ini belum matang pada anak-anak, terutama usia dini. Jadi, ketika anak sering terpapar video cepat, penuh warna, dan suara ramai, otak mereka terbiasa dengan rangsangan instan. Akibatnya, saat harus fokus belajar yang butuh usaha dan kesabaran, anak jadi cepat bosan.
Dulu, tontonan TV:
Sekarang:
Sekilas terlihat “aktif”, tapi sebenarnya otak anak jadi terbiasa lompat-lompat fokus. Inilah yang membuat anak sulit duduk tenang saat belajar atau mengerjakan tugas sekolah.
Banyak orang tua berpikir video “edukatif” seperti Baby Einstein bisa mempercepat perkembangan bahasa. Faktanya, penelitian justru menunjukkan:
👉 Bayi yang sering menonton video cenderung mengalami keterlambatan bahasa.
Kenapa?
Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP):
👉 Anak di bawah 2 tahun 0 jam screen time, kecuali video call.
Meski anak tidak menonton TV secara langsung, suara dan gambar yang terus menyala bisa:
Otak anak otomatis tertarik pada suara dan gambar baru. Ini disebut orienting response, dan jika terlalu sering terjadi, anak akan sulit fokus pada satu aktivitas.
Di usia ini, anak mulai:
Screen time maksimal 1 jam per hari masih diperbolehkan, tapi harus didampingi.
Masalahnya, banyak aplikasi “edukatif”:
Tujuannya sering bukan belajar, tapi menahan anak tetap di layar selama mungkin.
Akibatnya:
Belum tentu.
Banyak aplikasi tidak didukung riset perkembangan anak. Anak jadi:
Padahal, anak belajar paling baik lewat interaksi langsung, bukan sekadar menatap layar.
Di usia sekolah dasar, media memang bisa membantu belajar. Tapi jika berlebihan:
Penelitian menunjukkan anak yang sering media multitasking:
Ini tentu jadi tantangan besar dalam proses belajar di sekolah, termasuk di Madrasah Ibtidaiyah.
Media bukan musuh. Tapi media bukan pengganti orang tua dan guru.
Beberapa tips sederhana:
📌 Anak tenang saat pegang HP belum tentu karena fokus, bisa jadi karena otaknya sedang “dimanjakan” rangsangan instan.
📌 Terlalu sering screen time tanpa pendampingan bisa mengganggu fokus, kontrol emosi, dan kesiapan belajar anak.
📌 Media seharusnya jadi alat bantu, bukan pengganti peran orang tua dan guru.
Mari kita bersama-sama mendampingi anak agar tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, fokus, dan berakhlak baik, sesuai nilai-nilai pendidikan di MIS Nor Rahman Banjarmasin.
Tinggalkan Komentar