Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah spiritual yang dikenang setiap bulan Rajab. Ia adalah peristiwa agung yang membawa pesan besar tentang keimanan, keteguhan, dan arah hidup manusia. Dalam satu malam, Allah Subhanahu Wa Taala memberikan keistimewaan luar biasa kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menempuh perjalanan yang tak pernah dialami manusia sebelumnya.
Isra’ Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Perjalanan ini bukan mimpi atau khayalan, melainkan mukjizat nyata yang dialami Nabi Muhammad dengan ruh dan jasadnya.
Allah SWT menegaskan peristiwa ini dalam Al-Qur’an:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menjadi dasar keyakinan umat Islam bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan suci yang penuh hikmah dan pelajaran penting bagi kehidupan.
Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa sebelum perjalanan dimulai, malaikat datang menyucikan hati Nabi Muhammad SAW. Hatinya dibersihkan, lalu diisi dengan iman. Ini menjadi simbol bahwa perjalanan besar harus diawali dengan kebersihan jiwa.
Nabi kemudian menaiki buraq, ditemani Malaikat Jibril. Di setiap lapisan langit, Nabi bertemu para nabi terdahulu. Di langit pertama, Nabi Adam AS. Di langit kedua, Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Yusuf. Di langit keempat, Nabi Idris. Di langit kelima, Nabi Harun. Di langit keenam, Nabi Musa. Dan di langit ketujuh, Nabi Ibrahim AS.
Tangisan Nabi Musa saat itu menjadi isyarat bahwa umat Nabi Muhammad adalah umat yang besar, dengan peluang keselamatan yang luas, namun juga tanggung jawab yang berat.
Puncak perjalanan Isra’ Mi’raj adalah saat Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Di sanalah Allah mewajibkan shalat lima puluh kali sehari. Atas nasihat Nabi Musa, Nabi Muhammad kembali memohon keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi shalat lima waktu.
Lima waktu shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan hadiah langsung dari Allah kepada umat Nabi Muhammad. Tidak ada ibadah lain yang diperintahkan dengan cara seistimewa ini.
Shalat menjadi mi’raj-nya orang beriman. Setiap kali berdiri menghadap Allah, seorang muslim sejatinya sedang “naik” secara spiritual, membersihkan hati, dan menata kembali hidupnya.
Ketika Nabi Muhammad menyampaikan kisah Isra’ Mi’raj kepada kaum Quraisy, banyak yang menolak dan mencemooh. Bahkan sebagian orang yang mengaku beriman menjadi ragu dan berpaling.
Namun Abu Bakar tampil dengan keyakinan penuh. Ia berkata, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku percaya.” Dari sinilah ia mendapat gelar Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkan tanpa ragu.
Sikap Abu Bakar mengajarkan bahwa iman sejati tidak selalu menuntut bukti logika, tetapi kepercayaan penuh kepada kebenaran risalah.
Isra’ Mi’raj terjadi setelah Nabi Muhammad mengalami masa paling berat: wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Allah menunjukkan bahwa setelah kesedihan, selalu ada penguatan bagi mereka yang istiqamah di jalan-Nya.
Ini menjadi pelajaran bahwa siapa pun yang berjuang menegakkan agama dengan ikhlas, Allah tidak akan membiarkannya berjalan sendirian.
Shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk karakter. Ia menjaga lisan, menahan hawa nafsu, dan mendorong seseorang untuk berbuat baik. Shalat bukan beban, melainkan kebutuhan jiwa.
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan pertama manusia melintasi langit dan kembali dengan selamat. Ini menjadi isyarat bahwa Islam tidak menutup diri dari sains dan teknologi. Umat Islam justru dituntut untuk maju, mandiri, dan berdaya saing.
Penyebutan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dalam satu rangkaian perjalanan menegaskan bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari kesucian Islam. Membelanya sesuai kemampuan adalah bagian dari tanggung jawab keimanan.
Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi kompas kehidupan. Ia mengajarkan tentang keteguhan iman, pentingnya shalat, keberanian berpikir maju, dan kewajiban membela nilai-nilai agama.
Jika Isra’ Mi’raj hanya dikenang tanpa dihayati, maka ia kehilangan maknanya. Namun jika dipahami dan diamalkan, ia akan menjadi cahaya yang menuntun hidup manusia, dari bumi hingga langit.
Tinggalkan Komentar