Setiap perjalanan menuju kesuksesan memiliki cerita uniknya sendiri. Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang alumni MI Nor Rahman Banjarmasin, Zulfa Atqiya. Saat ini, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Formal Nurul Jannah Banjarmasin dan berhasil meraih peringkat 3 pada semester 1. Bagaimana perjalanan dan kunci suksesnya? Berikut kisahnya.
Saat ditemui, Zulfa Atqiya dengan penuh keramahan memperkenalkan dirinya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Zulfa Atqiya. Saat ini saya duduk di kelas 1 Wustho Alif dan belajar di Ponpes Nurul Jannah.”
Ketika ditanya tentang perasaannya setelah meraih peringkat 3, Zulfa mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan senang. Ini adalah hasil usaha saya dan doa dari orang tua saya.”
Keputusan Zulfa untuk melanjutkan pendidikan di Ponpes Nurul Jannah bukan tanpa alasan.
“Saya ingin belajar ilmu agama lebih mendalam sekaligus tetap bisa belajar pelajaran umum. Di Ponpes Nurul Jannah, saya bisa belajar ilmu agama dan tetap mendapatkan pendidikan formal yang baik.”
Zulfa juga membandingkan pengalaman belajarnya di MI dan di pesantren.
“Di MI lebih banyak waktu untuk belajar pelajaran umum, sementara di pesantren jadwalnya lebih padat karena ada tambahan kajian kitab dan ibadah sunnah lainnya.”
Dari berbagai mata pelajaran yang ia pelajari, Fiqih menjadi favoritnya.
“Saya lebih suka pelajaran Fiqih karena mudah dipahami dan bermanfaat untuk masa depan. Bukan berarti saya tidak menyukai pelajaran yang lain, karena semuanya sangat bermanfaat.”
Keberhasilan Zulfa tentu tidak terlepas dari usahanya dalam mengatur waktu dengan baik.
“Saya memanfaatkan waktu dengan baik, misalnya menghafal di sela-sela waktu luang dan mengulangi pelajaran sebelum tidur.”
Salah satu kebiasaan yang membantunya meraih peringkat 3 adalah fokus dalam belajar.
“Saya selalu berusaha untuk fokus saat guru atau ustadzah sedang menjelaskan pelajaran dan mencatat poin-poin penting.”
Tak lupa, Zulfa juga mengakui peran besar guru dan teman-temannya dalam pencapaiannya.
“Ya, tentu. Para guru dan ustadzah selalu membimbing dengan sabar. Teman-teman juga sangat membantu karena kami belajar bersama-sama.”
Zulfa memiliki cita-cita mulia setelah lulus dari pesantren.
“Saya ingin menjadi guru agar pelajaran yang sudah saya pelajari juga bermanfaat untuk orang lain. Saya juga ingin terus mengamalkan ilmu yang sudah saya dapat di pesantren.”
Ia juga memberikan pesan motivasi untuk adik-adik di MI Nor Rahman yang ingin mengikuti jejak kesuksesannya.
“Tetaplah semangat dalam belajar, jangan menyerah! Manfaatkan waktu dengan baik, hormati guru, dan jangan lupa untuk selalu berdoa. Kesuksesan tidak datang secara instan, tapi dengan usaha dan kesabaran, insya Allah semua akan tercapai.”
Kisah Zulfa Atqiya adalah bukti bahwa dengan tekad kuat, disiplin, dan dukungan dari lingkungan sekitar, setiap siswa bisa meraih kesuksesan. Semoga kisah ini bisa menginspirasi banyak generasi muda untuk terus berjuang dalam pendidikan dan kehidupan.
Tinggalkan Komentar